Sejak Indosiar mempelopori diri sebagai kanal penayang sinetron terpanjang yaitu Tersanjung, beberapa stasiun televisi lain pun mengekor. Para pemilik Rumah Produksi sudah mulai paham, betapa dunia hiburan merupakan sebuah industri dengan ceruk pasar menggiurkan. Maka cerita yang ada tak lagi menawan dinikmati. Para sineas lebih mementingkan jalan cerita yang bertumpu pada rating.
Hari ini, di kanal manapun kita menengok tayangan sinetron, kita dapati alur yang tak jelas ke mana muara endingnya. RCTI pernah memiliki Intan dan Candy sebagai sinetron yang banyak diklaim terlalau meterialis. Dua sinetron tersebut tak cukup nyali mempertegas ending yang semestinya sudah harus berakhir. Mengapa harus distop kalau masih layak jual? Akhirnya unsur Sexual Tense digenjot se-njlimet mungkin. Sesabar apapun kita menanti akhir cerita, selalu saja akan ada sub plot baru di sinetron itu.
Dari www.bintang-indonesia.com diungkap bahwa sinetron Intan dahulunya memang jelas “Penyembah” rating. Demikian kutipannya: “Sama seperti pemain dan sutradara, Indra tidak tahu kapan sinetron ini berakhir. Tapi Indra berjanji sebelum ditinggal penggemarnya, sebelum rating-nya anjlok, Intan harus tutup layar. ”Sejauh ini Intan akan berakhir pada episode 200. Tapi saya tidak tahu kalau kontraknya terus diperpanjang. Tapi saya janji Intan tidak akan berakhir seperti Tersanjung,” ucap Indra.” Indra yang dimaksud dalam kutipan ini adalah Indrayanto Kurniawan, Desain Produksi sinetron Intan.
Menengok ke era tahun 90-an, hampir semua sinetron tayang satu episode per minggunya, kecuali telenovela. Karena saat itu kru sinetron masih menjunjung tinggi disiplin penceritaan yang ideal. Apalagi saat itu banyak sinetron yang sebagian merupakan adaptasi dari novel sastra seperti karya-karya Mira.W. Sehingga skenario yang dieksekusi merupakan buah dari penceritaan yang terstruktur kokoh. Bila memang tiba waktunya berakhir, ya berakhirlah..
Sekarang hampir semua sinetron stripping tayang tiap hari. Demi memenuhi pesanan, kadang para pemain dipaksa berakting monolog di luar lokasi syuting. Kemudian secara teknis kombinasi gambar dipertemukan, seakan mereka berdialog dalam satu frame. Cara ini yang kerap dilakukan MD Entertainmen pada banyak sinetronnya.
Hasrat mengejar royalty belaka juga nampak dari sinetron-sinetron keluaran Sinemart. Serana Luna, Script Writer andalan Rumah Produksi milik Leo Sutato ini dinilai terlalu produktif. Siapa sebenarnya Serena Luna? Ternya dia bukanlah nama orang. Ada yang mengatakan Serena Luna merupakan nama pena dari organisasi sekumpulan penulis skenario spesialis jiplakan drama Korea. Beberapa jiplakannya antara lain: Love Storm (Baby Doll), My Name is Kim Sam Soon( Darling), My Little Bride( Pengantin Remaja), Be Strong Geum Soon (Intan), Yellow Handkerchief (Wulan).
Judul Untuk Mengulur Ending
Dari deretan sinetron yang tayang saat ini, banyak kita temui sintreon-sinetron yang menggunakan nama tokoh sebagai judul. Ambil contoh Dewi, Sekar, Lia, Rafika, Yasmin dan masih banyak lagi. Di SCTV juga tak beda, hanya saja depannya diimbuhi kata “Cinta”, seprti Cinta Fitri, Cinta Bunga, Cinta Indah. Judul-judul tak jelas seperti itu menjadi sangat elastis untuk menarik-ulur ending. Beda konsekuensinya dengan judul sinetron yang sejak awal sudah memiliki alur yang terstruktur, bahakan ending, seperti Saat Memberi, Saat Menerima, Istri Untuk Suamiku, Jangan Kau Ambil Anakku dan Air Mata Ibu.
Kita sudah cukup jengah, disuguhi tontonan yang jauh dari kualitas itu. Tapi para sineas tak berhenti berkarya karena rating masih menjanjikan. Apalagi untuk jam-jam Prime Time. Akhirnya kita tak punya pilihan lain untuk selalu bertemu sinetron. Benar-benar lingkaran setan bukan?
Lutfi Syarifudin
Gambar di ambil dari : helloskyblu.blogspot.com



pasha
June 3, 2009 at 11:21 am
Memang begitulah persinetronan kita. Sudah akting para pemerannya kebanyakan kaku, ceritanya juga main jiplak. Yang mau serius nulis cerita yang orisinal, malah tidak mendapat tempat…
http://pashafathanah.blogspot(dot)com
padahal
June 3, 2009 at 6:32 pm
@ Pasha Ungu:
semua itu karena yang ditamakan adalah keuntungan belaka, jadi para PH berlomba-lomba memenuhi pesanan jam tayang, sedang kemampuan & kualitas masih belum bisa mengimbangi produktifitas mereka
Si imut
March 9, 2010 at 2:20 pm
Sinetron kbnykan mank kya gtu ga da y6 menarik