
poster film 2012
Kalau saya mereview film 2012 mungkin sudah basi, biasanya sebuah resensi film ditulis sebelum film itu rilis di bioskop untuk sekedar promosi. Tapi justru sengaja saya tulis setelah banyak teman-teman menontonnya ( mungkin).
so, tujuannya bukan untuk mengajak nonton bagi yang belum, tapi untuk mengumpulkan testimoni tentang film tersebut.
Saya sendiri mendengar nama Roland Emmerich sebagai sutradaranya langsung ilfeel.
Roland merupakan filmaker spesialis scie-fi (fiksi ilmiah) yang bertumpu pada efek komputer semata, sedangkan alur ceritanya dibuat karena sekedar perlu saja. tak ada plot yang berbobot. Hasilnya, film-film yang dibuatnya bercirikhas kekonyolan, pemaksaan dan profokasi menjijikkan. yang paling parah, profokasinya bermuara pada kesuper-poweran Amerika. Teman-teman merasakannya bukan?
di filmnya terdahulu yang berjudul “Independence Day” Roland mengisahkan perlawanan manusia bumi VS Alien. Dan tentu saja dari pihak manusia, pahlawannya adalah orang-orang Amerika. “Independence Day” begitu hambar ditonton. Kalau bukan karena Will Smith pemeran utamanya, mungkin film ini tak laku di pasaran. Parahnya, “Independence Day” bakal dibuat sekuelnya lagi. Sebelum nanti nongol di bioskop, boleh kita prediksi, yaitu kisahnya pasti melulu tentang perang dahsyat rasa Amerika banget. mari kita tunggu kebenaran prediksi ini, hehe..
Daripada “Independence Day”, saya lebih suka melihat akting Will Smith di film “The Pursuit of Happyness”. Film itu merupakan kisah nyata seoarang milyarder yang bermula dari kebangkrutan dan pernah hidup menggelandang. Kisahnya mengharukan, Saya hampir nangis menonton film tersebut. Persis seperti apa yang pernah saya alami dulu ketika saya hidup di jalanan.
Tahun 2004 Roland membuat “The Day After Tomorrow”, Lagi-lagi Roland cuma pamer efek komputer saja. Ceriatanya tentang efek blobal warming yang berimbas pada pencairan es di antartika. Sama seperti gaya penceritaan dia di 2012 yang bermula dari temuan ilmuwan tentang kejanggalan bumi, selanjutnya usaha evakuasi. Sisanya efek komputer yang beradu akting. Roland menutup “The Day After Tomorrow” dengan ending yang janggal dan maksa banget. Tiba-tiba saja bumi pulih, bersih dengan sendirinya. Kita tak dapat apa-apa dari film tersebut kecuali hanya menonton visualisasi rekaan belaka.
Kembali ke film 2012 yang teramat naif itu. Bagaimana sang Amerika berusaha mengevakuasi manusia dari kiamat. Konyol, dan memang Roland Emmerich selalu saja mengesampingkan kualitas narasi penceritaannya. Kemudian sisanya hanya dominasi kecanggihan komuter saja. Memang begitu kan?
Sebenarnya film-filam karya Roland Emmerich punya potensi besar untuk diramu ke jenis film dokumenter, yang nantinya banyak memberi pesan moral yang tajam. Yaitu nasib bumi yang sudah semakin parah. Dari Global warming yang mencairkan gunun es di kutub utara, hingga lemahnya kekuatan kerak bumi karena kepanasan sehingga gempa terjadi di mana-mana. Itu semua tak jauh dari visualisasi yang digambarkan di “The Day After Tomorrow” dan “2012″. tak perlu dipaksakan menggunakan alur cerita yang konyol dan menuntut ending janggal. Sebuah pesan dan kesimpulan saja cukup. Maka efek komputer Roland tak lagi jadi bahan tertawaan tapi berbuah menjadi perenuangan akan upaya penyelamatan lingkungan.
Sayang, film bergenre dokumenter tak begitu laku untuk dikomersilkan, terlebih di Indonesia yang paling jarang memesan film-film begituan.
Roland Emmerich memang dilema, sudah menjadi rahasia umum di dunia perfilman. dimana Hollywood punya otoritas memetakan opini dunia melalui film. Tentu saja Amerika yang jadi pahlawan dan memiliki musuh dari negara yang itu-itu saja seperti Rusia, Jepang dan Timur tengah. Begitulah pencitraan negara-negara versi hollywood.
Di film perang atau militer juga sama. Oliver Stone sempat membayar mahal untuk menyewa properti peperangan ketika membuat film Platoon. Film ini sudah sering diputar di TV karena rilisnya sudah lama. Bahkan Johny Deep yang sekarang gemilang jadi captain Jack Sparrow di tiga film Pirates of Caribean, di film Platoon dia masih culun dan mendapat peran sebagai cameo doang.
Film Platoon dibuat dengan budget yang mahal karena penceritaan tragedi perang Amerika VS Vietnam yang terlalu jujur, dimana Amerika mendapat kekalahan di film tersebut. Persis seperti kejadian aslinya dahulu. Namun jarang kita dengar bahwa negara kecil seperti vietnam pernah mengalahkan Amerika sang super power kan?
itulah, betapa suksesnya hollywood merekayasa sejarah melalui film.
Dan melalui film-film fiksi ilmiah karya Roland Emmerich pula Amerika meneruskan profokasi tersebut.
Sekarang apa pendapat teman-teman tentang fenomena ini?
silahkan proaktif berkomentar apa saja di sini.
Salam Hangat,
Lutfi Syarifudin