RSS

Monthly Archives: September 2010

Pesan Kejeniusan Oleh Para 3 Idiots

Mendengar segala hal tentang India, biasanya saya langsung ilfeel. Kecuali setelah disadarkan oleh film “SlmdogMailionare”. Sekarang, saya kembali disihir oleh film super cerdas berjudul “3 Idiots.”

Ini film Bollywood tentang kisah ketololan 3 pemuda India yang menyampaikan pesan kejeniusan di dalamnya.

Uniknya, “3 Idiots” yang banyak menggugat sistem pendidikan ini disampaikan dengan sindiran-sindiran jenaka yang kita sebagai penonton akhirnya sukses tertawa untuk menertawai kesemrawutan pendidikan konvensional yang selama ini kita temui. Ya kita akhirnya dipaksa untuk menertawai dunia kita secara sengaja.saya jadi Teringat saat belajar di Assalaam Temanggung dan dibimbing oleh ust Mufilh Wahyanto

“3 Idiots” memang mengisahkan 3 pemuda yang dianggap idiot yaitu : Farhan, Rancho dan Raju. Namun pada substansi film tersebut, nyatanya semua tokoh yang berperan, menyampaikan pesan masing-masing.

Rancho si jenius yang masuk dalam kasta 3 idiots dengan sikap tersirat berusaha merobohkan sistem pendidikan yang menurut dia diibaratkan seperti mesin yang dipaksa bekerja keras menghafal materi pelajaran.

Sedangkan di pihak seberang ada Chatur si mahasiswa teladan memaksimalkan diri menempuh kesuksesan dengan memburu prestasi di kampusnya. Di film ini digambarkan jelas tentang persaingan otak kanan (Rancho) melawan otak kiri (Chatur).

Farhan dan Raju dengan latar belakang keluarga masing-masing juga urun pesan disini. Yaitu pesan tentang ayah Farhan yang kekeuh mendambakan anaknya menjadi insinyur mesin, padahal Farhan sama sekali tidak menyukai mesin, yang dia suka adalah fotografi alam liar.

Keinginan ayah Farhan sangat beralasan, dia pikir menjadi insinyur mesin bisa sukses dan memiliki mobil mewah kemudian bahagia. Namun jauh di lubuk hati farhan kebahagian baginya ada manakala dia bisa menyalurkan hobynya.

Disinilah banyak kita temui scene mengharukan ketika Farhan dan sang ayah saling mencoba meyakinkan pendapatnya dengan kalimat-kalimat “nendang”.

Sedangkan Raju yang aslinya menyukai mesin tapi tak pernah mendapat prestasi baik di kampusnya. Maka Rancho menganalisa dengan klaimnya terhadap Raju yang terlalu penakut, menggantungkan pilihannya kepada jalan yang ditentukan dewa. Dia digambarkan sebagai ahli ibadah yang lebay, saking alimnya, jalan hidupnya tak realistis. Dia banyak mengenakan cincin untuk perlindungan keluarganya. Namun karena sikap itu, dia jadi ketergantungan terhada dewa dan takut merubah jalan hidupnya.

Kisah cinta antara Suhal dan Pia (anak Mr Virus, rektor kampus 3 idiots) juga menjadi bagian dai pesan moral film ini. Bahwa cinta yang sebenarnya tak bisa dinilai dengan pemberian barang mewah. Seperti yang sering dideskripsikan tentag tokoh suhal yang di film ini dijuluki “Si label harga”.

Kemudian sikap diktaktor Mr Virus yang memaksa anak-anaknya, murid-muridnya untuk tunduk dalam sistem yang dia bangun. Tokoh Mr Virus tak kalah memberikan efek “o iya..ya” kepada kita para penonton untuk menyadari keburukan sistem otak kiri di dunia kampus dan keluarga.

Di film ini walau Farhan diposisikan sebagai narator yang mengisahkan pengalaman belajarnya di kampus dulu, namun yang menjadi tokoh sentralnya adalah Rancho. Si baba perubah mindset semua orang-orang di sekelilingnya. Film ini bagaikan film “sang Pemimpi” (SP) di mana Lukman Sardi (Ikal Dewasa) menceritakan Arai yang menjadi sahabat tercintanya saat remaja dulu.

Namun tak seperti SP, yang kita diberi banyak ruang unduk menye-menye mengaru biru, terlebih didukung scorring musik olahan Titi Sjuman dan Wong Aksan yang begitu menyentuh. Di 3I, banyak adegan mengharukan namun tetap saja dibalut dengan aneka kekonyolan. Seperti penyadaran sosok jenius Ranchu si baba penyelamat yang nyatanya tak sempurna. Dia banyak memberi motivasi dan merubah pola pikir orang lain, namun dia sendiri takut menyatakan cintanya kepada Pia.

Tak ada adegan renungan dengan aluanan  musik yang melankolis di scene ini, yang kita dapati malah ceng-cengan hinaan dari Raju dan Farhan sambil menertawai habis-habisan. “Kau menyuruhku untuk tak takut menghadapi wawancara, tapi kau sendiri takut mengungkapkan cinta kepada Pia. Kalo kamu bisa mumbuktikan keberanianmu itu, maka aku janji, aku tak akan takut menghadapi apapun.” Itu kata Raju.

Sedangkan Farhan bertaruh akan berani bicara kepada ayahnya untuk beralih menjadi fotografer, bila Rancho mampu mengungkapkan cintanya pada Pia.

Maka disinilah lagi-lagi kita temui kembali pesan moral tentang cinta pada film Idiot, juga disajikan dengan kalimat tak sendu namun konyol:

“22 menit yg kulewati berasamamu di motormu, itu 22 menit yg terbaik dalam hidupku.aku rela habiskuan hidupku di motor itu.”

Dalam satu Film ini kita akan temui beragam pesan moral, diantaranya:

-Sistem pendidikan –> Ada di scene saat Rancho diminta mengajar di depan kelas oleh Mr.Virus

-Ilmu pengetahuan –> Kita diingatkan bahwa air asin adalah menghantar listik terbaik (termasuk air kencing hehe)

Juga ketika Rancho berhasil menyalurkan sumber dari aki ke komputer saat persalinan kakak Pia.

-Hakikat cinta –> Simak upaya Rancho merebut Pia dari Suhal!

-Hubungan ortu dan anak –> Kita bisa pahami tentang kesalahan mendidik anak oleh ayah Farhan yg egois, ayah Pia yang diktaktor dan ayah Ranchadas Chanchad yang terobsesi butuh gelar untuk anaknya untuk tetap jadi keluarga terpandang.

-Persahabatan –> Ketika Rancho menyelamatkan ayah Raju,

-Pengorbanan –> Ketika Rancho mencuri soal ujian untuk Raju

-Pembajakan ilegal –> Apakah Anda pikir Farhan sedang menjawab pertanyaan dari Pia ketika dia bingung mengapa ada Chatur yang terbekap di mobil? Farhan menjawab: “Cerita  ini rumit untuk dijelaskan, bahkan tak ada subtitlenya.”

Saya baru menyadari, saat itu Farhan sedang berpesan kepada pembajak film ilegal, yang habis download langsung cari subtitle terjemahan film tersebut. Apalagi kualitas terjemahan subtitle yang gak karuan, maka menikmati film ini menjadi cerita rumituntukdijelaskan.

Bukan  begitu?

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2010 in Film

 

Tags: , ,

Degradasi Pasca Ramadhan

Sebulan sudah kita belajar untuk meningkatkan kemapuan menahan hawa nafsu. Maka setelah hari kemenangan ini, tentunya kita sudah terlahir kembali menjadi sosok suci yang mampu berusaha kebal terhadap godaan-godaan setan.

Hari kemenangan bisa diartikan sebagai hari kemerdekaan. Tapi lain dengan hari kemerdekaan Negara kita yang jadi momen memberi grasi untuk membesakan para koruptor dari balik bui. Sedangkan kita, apakah juga turut membebaskan syaitan yang bulan Ramadhan lalu sudah dibelenggu? Tentu saja tidak.

Kita yang masih muda ini memang identik dengan keperkasaan dan tahan uji. Maka alangkah baiknya bila keperkasaan itu kita diksikan pada keperkasaan mempertahankan kestabilan iman pasca Ramadhan. Memang, Ramadhan punya pengaruh besar dalam mengkondisikan iklim nuansa keimanan kita. Namun bukan berarti akhir Ramadhan adalah akhir dari masa-masa kekhusyu’an. Justru Ramadhan adalah sarana menaikkan level keimanan kita supaya lebih punya imunitas terhadap godaan syaitan.

Banyak amalan yang memang khas dilakukan di bulan Ramadhan saja, seperti shalat tarawih, puasa wajib, I’tikaf dan lain sebagainya. Tapi ada juga kebiasaan Ramadhan yang patut kita teruskan di bulan-bulan berikutnya. Seperti ritme kebiasaan mengamalkan sikap sabar, menahan nafsu, menghindari dosa, menghindari gossip ngomongin kejelekan orang dan bermepati kepada lingkungan sekitar misalnya.

Jangan sampai pelatihan selama 1 bulan lalu mengalami degradasi berupa penurunan kualitas iman kita. Kalau istilah ngetrennya oleh para aktivis masjid, kasus degradasi iman ini disebut “Futur”. Arti simple kata “futur” adalah berhenti setelah berjuang.

Memang di hari kemenangan ini, perayaan bulan syawal kadang identik dengan hiburan-hiburan yang tak jauh dari beraroma maksiat. Tapi buat kita, syawal sama seperti arti dalam bahasa aslinya, yaitu peningkatan. Maka di bulan kemenangan ini mari kita tunjukkan diri kita yang udah lahir kembali menadi sosok yang bersih. Tunjukkan bahwa satu bulan lalu kita tak hanya menahan haus dan lapar, tapi kita memang digojlok habis-habisan untuk siap tempur melawan godaan syaitan.

Lutfi Syarifudin

 
1 Comment

Posted by on September 13, 2010 in Tausiyah online

 

Tags: ,

Tante Vera Ernawati, Ajarin Kapoera Dong!

Aku pengen kalo ada orang yang googling nama “Vera Ernawati”, maka postingan ini yang muncul paling atas, hehe.

Nama dia terpakasa masuk daftar postinganku di category “Aku Lagi Ngomongin Kamu” di blog ini. Soalnya aku dan dia dulu termasuk temen sekelas yang bandel, walaupun kita berdua belum pernah ketemu sampai saat ini.

Na, kita jadi satu dalam sebuah kelas juga berupa kelas virtual di Sekolah Menulis Online (SMO) bikinannya bang Jonru. Bang Jonru sendiri juga teman sesekolah (entah sekelas ato gak sama aku he) yang juga belum pernah ketemu sama aku sampai saat ini. Karena sekolah kita juga virtual di Asian Brain (Internet Marketing Center (IMC).

Di Asian Brain bang Jonru adalah adik kelasku walau aku baru 19 th dan dia dah tua dan punya anak. ( T.U.A –>TUA he). Trus di SMO Bang Jonru adalah gueruku, aku muridnya dia. Dan Tante Vera Ernawati adalah teman sekelasku yang paling bandel. Sayangnya kebandelan dia gak pernah terungkap dan diketahui Bang Jonru sebelum aku tuliskan di postingan ini. (demikian juga soal kebandelanku).

Namanya juga kelas virtual, jadi ketika bang Jonru ngajar via Conference Yahoo Massenger, aku dan tante Vera gak pernah ketahuan kalo ngobrol sendiri di dalam kelas.

Di sesi conference, Bang Jonru menerangkan materi dengan typing seluruh penjelasannya ke chat box, trus kita menyimak dan interaktif di sesi tanya jawab. Saat itu jadwal conference tiap rabu malam jam 8. dan diantara temen sekelas yaitu: Tante Vera, Mas Lisman, Tante Rose (OL dr jepang) trus banyak lagi…kita akrab dan heboh, tapi aku gak banyak inget nama-nama mereka.

Kelas saat itu adalah kelas Non fiksi angkatan 4. Dan aku adalah 1 dari 3 orang yang beruntung mendapatkan beasiswa penuh dari newbie sampe lulus di angkatan 4 ini hehe. Ini karena aku terpilih melalui kompetisi bikin arikel dan menyisihkan sekitar 115 orang ato berapa gitu.

Selain Bang Jonru, kita diajar sama Bang Oleh Sholihin, penulis buku “Jangan Jadi Bebek” dan banyak buku non fiksi lainnya.

Karena judulnya terlanjur aku tulis nama tate Vera Ernawati, maka aku tetep mo ngemengin dia disini. Jadi pas bang Jonru atau O.Sholihin ngajar, aku dan tante Vera slalu ngrumpi di chat bilateral (kalo di converence bs ketahuan kek ngobrol di kelas konvensial hehe).

Walau kita berdua suka ngrumpi, tapi bukan berarti kita gak merhatiin penjelasaan dari pak guru. Justru kita saling nantang untuk bisa interaktif di converence pas dapet soal ato sesi tanya jawab.

Misal Bang Jonru minta kita kasih contoh frasa dari materi yang lagi dijelasin tante  Vera bilang ke conference kalo Lutfi bisa. Trus gantian di soal selanjutnya akubilang kalo tante Vera bisa buat contoh kalimat kek gitu.

Karena akhirnya kita slalu saling njebak, maka di conference keliatan kita paling pro aktif, padahal di chat bilateral kita, Tante Vera bilang…”mampus ne, kurang ajar mas Lutfi kok aku suruh nyontoin kalimat begindang, susah ne.”

Kalo lagi rame-rame gini trus tante Vera gak juga bales typingku. Udah dipastikan  dia lagi kabur ke dapur atao kulkas ambil cemilan. Trus pas nongol dia typing gini: ” hmm nyummie, abis ambil ctrowbery ni, mas Lutfi mau gak? hehe.”

Dasar kelas virtual, ya beginilah, saat itu aku juga kadang sekolah masih pake sarung karena abis sholat isya lum ganti pakaian.

Dulu Bang Jonru adek kelasku di Asian Brain dan jadi guruku di SMO, maka dulu Tante Vera temen sekelasku di SMO, harus jadi guruku buat ngajar Kapoera. Karena dia emang expert di olahraga itu. Kalo Tante Vera baca, dia harus ngomen !.

Oya, dari tadi aku nyebut dia Tante Vera, padahal dia gak mau dipanggil tante, maunya dipanggil “vera”, atau “mba Vera”. sorry deh, terlanjur posting mpe bawah he

 
1 Comment

Posted by on September 13, 2010 in Aku lagi Ngomongin Kamu

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.