RSS

Category Archives: Cerita Fiksi

Boleh Gak Ega Nangis?…

Aku bosan, Ega muak. Bukan saatnya lagi buat aku memposisikan dia sebagai anak yang terlalu belia untuk dimanja. Ega muak dengan kehidupannya yang tak pernah dianggap bisa dewasa. Dengan detail aku menangkap sinyal kejenuhan itu. Maka bukanlah sesuatu yang nekat bila malam ini aku dan Ega cuma berdua gardu Wonotirto di kaki gunung Sumbing.

Ini malam minggu, larangan keras bagi Ega untuk keluar rumah. Dan Hendry yang menjadikan malam ini malam nekat. Cerita simpel sengaja disiapkan untuk ortu mereka ( Hendry dan Ega ). Sedikit klise: yaitu sore hari Hendry  jemput Ega dari bimbel tapi pulangnya agak malem karena sekalian nganter aku nyervis Javelin. Itu kronologi yang disajikan buat ortu mereka.

Kenyataannya Hendry “nyerahin” Ega ke aku biar dia bisa mampir ke Megaplex dan pulang agak malem dan ngambil Ega dariku lagi kemudian pulang membawa Ega dengan selamat. Dia gak mbiarin Ega pulang duluan biar gak ketahuan kalo dia ngloyor ke Megaplex. Di siniah aku dimanfaatin Hendry.

Dan aku? Malah mulus banget balas dendam manfaatin situasi buat nongkrong malem mingguan sama Ega. Ini special, tadinya mana mungkin Ega bisa keluar malam mingguan gini?, dan terlalu special karena ini malam minggu paling sepi di dunia. Kami cuma berdua di gardu Wonotirto lereng gunung yang cukup tinggi bahkan jauh dari aliran listrik di sekitar kami.

Kenapa kami di sana? Jawabannya bukan karena nekat, itu karena aku tak mungkin membawa Ega ke tongkrongan ramai khas malam mingguan anak muda. Itulah kenapa ortunya melarang dia malming diluar rumah.

Di tempat ini, kira-kira 800M lebih tinggi dari pemukiman penduduk lereng gunung Sumbing. Tak ada lampu listrik kecuali beberapa di sepanjang jalan yang kami lewati. Di sekililing kami ladang jagung dan tak jauh di atas kami hutan pinus yang tak terlalu lebat.

Ega tahu maksud suasana ini, dia paham kalau di dataran tinggi ini, dan jauh dari penerangan listrik akan membawanya ke panorama langit yang Indah.

Tempat ini jarang dijangkau oleh banyak orang kecuali penduduk sekitar, dan saat ini, tempat ini cuma milik Ega. Dia tak mau berkedip sebelum memergoki sebuah meteor masuk ke bumi. Milyaran bintang dengan rasi yang begitu mempesonanya tak tergambarkan dengan kata-kata.

Ega hilang dibawa suasana lain yang belum pernah dia lihat.

“kak..boleh gak?”

“Boleh apa sayang?”

“Boleh gak Ega nangis?”

“Nangis untuk apa?”

Ega menggeleng…akupun tak menuntut dia menjawab, karena dulu ketia pertama kali aku ada di sini, akupun ingin nangis.

“Boleh kak?”

“Tentu boleh, kenapa enggak?”

“Tapi Ega nangisnya dipelukan kak Lutfi, boleh?”

Tanpa menunggu aku menjawab dia sudah bersandar dipelukanku sambil menangis memandangi bintang-bintang terindah yang belum pernah kami lihat. Aku belai rambut Ega yang kental, dan kuusap air matanya. Pipinya halusnya lembab, kalau bukan karena gelapnya malam itu, pasti terlihat kesenduan yang memerah dari pipi beningnya.

Ega menahan tanganku.

“Kenapa mesti diusap air mataku kak? Biarin aja mengalir..Ega pengin ngeluarin semua yang selama ini selalu dihalangi untuk keluar.”

Yang aku rasa, malam ini Ega sangat beda, bahkan dia bukan Ega, dia tak memanja dan sikapnya dewasa. Kata-katanya tak judes. Dan kali ini dia tak menyinggung Vanes. Cewek yang bikin dia jeales. Nama itu sensitif buat Ega. Malam ini, tak ada bayangan ruh Vanes yang mengganggu Ega. Nampaknya dia sudah memenagi hatinya sendiri. Secara dewasa dia sudah menganggap memilikiku utuh.

Dia tak lagi mengurus yang tak perlu, dia tak terbesit untuk memikirkan Vanes yang selalu dia tuduh sebagai cewek caper yang merebutku darinya.

“Selain air mata, apalagi yang selama ini terhalangi untuk keluar?”

“Isi hati Ega..tolong biarin dia keluar, Ega gak bisa nyegah kak”

Ega semakin mendekatkan dadanya di pelukanku, air matanya mengalir kencang, nafasnya mendesah sesenggukan. Dadaku basah, pelukanku semakin erat, kubiarkan air mata dan isi hatinya mengalir didadaku.

Aku dan Vanes pernah sepakat, menangis itu sehat. Maka dari itu aku tak pernah melarang dia untuk menangis. Dan kali ini Ega, aku yakin setelah tangisnya reda, dia akan kembali lahir menjadi bidadari anggun kembali. Dan, menangis membutuhkan energi, untuk itu, aku sudah sangat siap bila beberapa menit ini Ega terlelpa pulas di dadaku.

Aku berjanji tak mau kehilangan bidadari indah yang ada dipelukanku ini. Walau ditukar dengan Vanes sekalipun.

Aku tahu Ega tak sepenuhnya terlelap.

“Cantik, coba deh lihat ke atas!”

CLAAAP!!!..sebeuah meteor kecil masuk menembus atmosfir dan meninggalkan goresan kecil.

Ega menangkap kilatan itu.

“Indah banget ya kak..”

“ Ega gak kalah indah dari langit itu.”

“iih..kak Lutfi ni..Ega ntar nangis lagi lho!..”

 
3 Comments

Posted by on March 24, 2010 in Cerita Fiksi

 

Tags: , , , , ,

Kak Lutfi Jangan Macarin Kak Vanessa!…

Kami belum juga saling bicara, kecuali satu kata dariku; “minum?..”
Kemudian beberapa menit kami masih terdiam, kubiarkan pandanganku lepas begitu saja menyapu lalu lalang manusia belanja. Sedang Ega masih saja menyerutup soft drink yang tadi kuatawarkan sambil sesekali mengipas-ngipas leher karena kegerahan.

Manusia-manusia sophahollic yang berseliweran sudah tak menarik lagi kulihat. Mataku berhenti di raut Ega yang berkeringat. Poninya sedikit acak dan basah lembab, bahkan menjadi semakin indah menghiasi dahi langsat bersih tanpa jerawat itu.

“Ga sekarang sudah sore,  Kenapa kakak tiba-tiba di suruh nunggu kamu di sini? Dah pamit ke ortu belum? Kamu gak lagi ada masalah kan ?”

Ega cuma senyum, mengapa kalimat-kalimat dari mulutnya sekarang terkesan begitu mahal? tak seperti Ega Ayunda yang kukenal, cerewet, hiperaktif, tomboy, banyak polah, mirip bola bekel. Tapi sore ini dia sedikit mahal, diamnya terasa anggun, dengan senyum yang bikin aku mlongo.

ditanya gak njawab, malah senyum

Aku sodorkan laptop yang sudah dari tadi kupakai hotspotan salagi menanti dia datang, Kebiasaan Ega, walau cerewet, tapi kalau mau curhat pribadi, dia lebih suka menyampaikan secara tersirat. Kadang ijin mau main lillo, tapi ternyata dia menulis berlembar-lemabr curahan hati yang akhirnya membuatku tersenyum. Bersyukur memiliki bidadari Ega yang Tomboy tapi banyak malu.

Tapi kali ini, dia geleng kepala, Poninya mengibas. Tetap saja Ega Anggun sore ini.

“Kak, tau gak sih….”

Nyeeeer…kalimat Ega keluar, kubenar-benar menanti dia membuka suara, 10 menit Ega jadi pendiam bagiku adalah kehilangan yang amat sangat. Terlanjur dijadikan aku temapt curahan hati, tempat saling ejek dan mbanyol. Selalu tak ada yang beku diantara kami. Maka diamnya Ega, aku pikir inilah bencana.

“Kak, tau gak sih, Bi asih pacaran sama bang Mud, tukang ojek komplek rumahku.”

Aku cuma mematung konyol, merasa aneh, cuma diam sekian detik dan akhirnya, seperti biasa, aku cuma tersenyum kosong, tak ada makna. Atau bahkan terlalu mencampur antara berbagai kebingungan dan heran. Mendapati bidadari aneh yang gak bisa kuprotes akan tingkahnya, sulit dibikin dewasa.

“Jadi…Ega nyuruh kakak nunggu kamu di sini cuma buat denger kabar kalo bi Asih pacaran sama tukang ojek?”
“kak Lutfi marah?..”

aduh..makhluk imut di depanku ini mempecundangi aku. Selanjutnya, apalagi kalau gak berakhir dengan senyum kosongku. Aku jewer pelan hidungnya. Aah dia mulai kesakitan, mana urus kutakpeduli.
Ega menambat tanganku keras ke meja, keras sekali, otot tomboynya mengobati penantianku yang menunggu sosok Ega utuh dari tadi.

“iiih…kak Lufi gimana sih, sakit taoook?…”
Dia manyun, bete, cemberut….Ini dia, cemberut Ega yang mempesona, entah mengapa aku mendamba momen kecemberutannya melebihi momen seseorang menunggu gerhana bulan/matahari datang. Momen kecemberutan Ega lebih indah.

Pipinya Chubby, itu yang kutuntut dia untuk dipertahankan, dia hapal betul pesanku tiap habis telepon, supaya jangan kebanyakan diet, “kakak gak suka Ega kurus, ntar Ega kalo jarang makan Pipi Ega gak Chubby lagi..”

Aku spontan jadi ingat, Ega belum kupersilahkan makan, dia bukan tipe gadis tomboy udik yang polahnya pecicilan. Selagi belum ditawari, dia gak akan pernah minta.

“Ega belum makan kan?…”
Dia mengangguk. Kusodorkan Chicken nuget, kentang goreng dan cap cay pedas yang dari tadi sudah ada di atas meja. Aku suka melihat Ega makan kepedesan, aku suka dia berkeringat. Seperti tiap kulihat dia main futsal dengan Hendry di samping rumahnya.

“kak Lutfi jangan macarin kak Vanessa ya!, dia tu lebay, sok seksi, sok cantik, aku gak suka ma dia.”
“Kok Ega bisa nyangka kalo kakak mo macarin Vanessa?”
“Yee kak Hendry yang cerita kalo kemarin kak Venessa megang tangan kak Lutfi waktu di JITEC minggu lalu.”

Aku cuma tersenyum, melihat pesan keseriusan di mimik wajahnya, sambil kepedesan pula. Anggun dia.
Kuacak-acak rambutnya gemas.

“Iiih…lagi ngomong serius juga, kakak mah gitu sekarang. jahat banget sih?.”
“Lho jahat kenapa sayang?”
“Sejak kakak kenal sama Kak Vanessa, kakak berubah…masa kita ketemuan di sini aja harus ngobrolin yang penting-penting. Kakak kan dah janji mo slalau ada buat aku, mo slalu ngelindungi aku. Kakak kalo lagi jatuh cinta sama kak Vanessa gak asik lagi deh.. “

Aah…dasar Hendri, apa-apa tentang aku diomongin ke Ega, jadi miscominucation gini deh.

“Ga…kakak gak bakal macarain kak Vanessa kok, dia kan panitia di JITEC kemaren, dia yang masangin gelang buat tiket masuk ke seluruh peserta. Hendri juga dipegang tangannya pas mo dipasaning gelang sama Kak Vanessa.”

“Iya deh aku percaya, tapi janji ya, kak Lutfi gak boleh macarin kak Vanessa!..”
“Oke bozz!..”
“Sama kak Anika juga!”
“Iya..”
“kak Nane, Kak Rani, kak Shinta…pokoknya smua deh!…”
“Lho koq semua dilarang?…”
“Bodo…pokoknya kalo Kak lutfi pacaran, tampangnya berubah jadi mirip setan!”
“Ok kakak njomblo deh, tapi….”
“Tapi apa?…”
“kakak mo njomblo asal Ega ngabisin makanan kakak, deal?..”
“yeee punya kakak kan masih utuh, Ega dah kenyang kak, gak mau ah…habisin ndiri dunk…”
“yaudah kalo Ega gak mau nambah makan, kakak sekarang mo nelpon kak Vanessa trus nggombalin dia.”
“eh..eh..jangan-jangan, sini aku makan semua…”

Capcay pedes, kentang goreng dan nugetku diraihnya, tak luput HPku juga diembat. dia benar-benar butuh mengamankannya.

Senja semakin memerah saga. Ega kewalahan tapi tuntas menghabiskan makanan di atas meja, demi janjiku untuk tidak dekat dengan Vanessa. Tak sedetikpu aku melewatkan memandangi bidadari tomboy yang anggun ini.

“Dah kak, habis semua makanannya, kakak juga pegang janji kakak ya!.
“Ya udah Ega pulang sekarang, dah mo mahrib ni, ntar di marahin sama om dan tante lagi…”
“Ya enggak bakal deh aku dimarai..”
“Koq enggak?”
“Kan ntar kak Lutfi yang nganter aku pulang, wek!..”
“hah?..”
“Ega ke sini diantar pak Amir kan?”
“Pak Amir dah tak suruh balik ke rumah, aku pulangnya diantar kak Lutfi aja, kan papa percaya banget sama kakak, jadi aku gak bakal kena marah..hehe”

Ya ampun, ni anak, beda banget sama Hendry. Sambil pasang muka sinetron lagi…

“Yaudah kakak anter kamu pulang, tapi bersihin dulu pipi kamu yang belepotan itu.”
“Ni…”

Ega malah nyodorkan tissu ke aku

“Lho…koq?..”
“Iya…kakak dunk yang mbersihin pipiku!…”

lagi-lagi aku cuma pasarh, ngelap pipi langsat yang chubby, sampe kembali bening sperti semula, wajah indah tanpa jerawat.

“Ga, setau kakak, Hendry gak pernah ngajarin kamu manja kaya gini, malah dia yang bikin kamu jadi tomboy, ngajakin kamu mainan futsal segala.”
“iih..kakak ni…sekarang jadi sering protes deh, ni pasti gara-gara deket sama kak Vanessa, uuh dasar!.’
“Gak lah…kakak kan dah janji ma Ega, kakak gak mo deket sama Vanessa. Yaudah kakak antar pulang sekarang!.”

Tiba-tiba Ega bangkit ndorong dadaku sampai aku jatuh ke kursi, dengan tenaga tomboynya. Dia lari ke kasir. Kutinggal dia turun ke lantai 2.
Lalu…Dengan tergopoh-gopoh,Ega nyusul aku sambil mencak-mencak.

“Koq gak bilang sih kalo udah dibayarin semua, kan kalo makan bayarnya belakangan, kalo bayar duluan mana boleh, lagian tadi kan aku smua yang ngabisin makanan, mestinya aku yang bayar, koq kak Lutfi dah bayar duluan, Curang!”

“Ini bukan kak Vanessa lho yang ngajari,haha..”
Ega jalan lebih cepet, sambil nggandeng tanganku, bahkan aku setengah berlari ngikuti langkahnya. aku suka momen seperti ini.  Sambil cemberut pula.

Cemberut tomboy yang anggun.

tengs, dah baca sampe akhir, cerita ini masih ada sambungannya…

mau terima ato gak, postingan ini dapat sponsor affiliasi lho:
Produk Cepat Saji

 
11 Comments

Posted by on September 24, 2009 in Cerita Fiksi, Lutfi Sableng

 

Cerpenku: Sorry, Aku Gak Puasa

“Pin soal no 8 dan 10 koq belum jadi?”
“Udah koq, dah tak kerjain semua, kamu tinggal njiplak aja susah amat?, buruan.. 2 menit lagi PR kita dicocokkan lho, pak Isa hampir datang.”
“Yang mana?”
“ Sini aku cariin,… Yaa ampuun Mahyaaaal kamu tu koq njiplak PR yang ini sih, kan ini PR matematika kemaren yang udah di nilai, tu PR yang ntar dikumpulin halaman sampingnya..”
“Aduh Pin, gimana dong..masa aku kudu dijemur lagi di lapangan gara-gara gak ngerjain PR?’
“Salah sendiri week!..”
“Gimana kalo aku beli aja buku tulis kamu ini, trus namamu tak ganti jadi namaku yah..yah..yah..! ”
“Anjrit lu..dah ditolongin, nyusahin lagi, sini bukunya!”

Sambil melotot Vinka nyambet buku tulis bersampul pink dengan gambar Oralndoo Bloom ngacungkan pedang kesayangannya.

“Hussh.. puasa-puasa gak boleh ngomong gak sopan!”
“Barin, daripada kamu, puasa-pusa nyusahin orang, lebih gak boleh taok…”
“Yee aku kan gak puasa.”
“Hah?”

Akhirnya,…detik-detik paling gak enak buat Mahyal itu tiba. Pak isa, guru matematika paling killer nongol dari pintu kelas.
“Aduh Pin, gimana ni..masih mending aku disilet-silet kayak Manohara daripada ketangkep gak ngerjain PRnya pak Isa.”
“Pasrah dan tawakal aja, biar musibah ini berbalik jadi pahala buat kamu, lagian hari ini kamu butuh banyak pahala buat nebus dosa-dosamu hari ini. Apalagi kamu gak puasa, kurang amal banget kan?”
“Pin, bilangin ke pak Isa, pak Isa ganteng deh!..”
“Hey-hey..tambah dosa tu, puasa-puasa ngrayu orang.”
“Kan aku dah bilang, aku gak puasa.”
“Masa apa-apa disambungin ke puasa? Gak boleh tu!”

“Selamat pagi anak-anak!”
“Pagi Paaak..!”

Salam dari pak Isa terdengar super angker di teling Mahyal.

“Aduh Pin mendadak aku mules dan mual deh..”
“Salah sendiri gak puasa..”
“Bukan soal itu, tapi…”

“Anak-anak, tolong buka buku paketnya halaman 24!”

Suara angker itu semakin membuat Mahyal mual-mual.

“Tolong kerjakan tugas di halaman itu dan kalo sudah dikumpulkan ke ketua kelas. Bapak hari ini ada rapat, jadi Cuma bias ngasih tugas saja.”

Seketika Mahyal ambruk di atas meja.
“Yal kamu mual beneran yah?”

Mahyal gak bangkit cuma melek sambil nyengir.
“hehe..Mendadak sembuh dunk…”

***

Tiba-tiba hari sudah siang, Mahyal dan Vinka sampai di jam terakhir di kelasnya. Sorry kalo maksa, cerita dua makhluk aneh itu terlalu gak pantas dikisahkan di media dan kepotong banyak sensor. Intinya mereka sampai di jam terakhir pokonya hehe…

Kali ini yang ngajar pak Fajar, konon pak fajar lahirnya emang pas saat-saat sahur bulan Ramadhan 30 tahun yang lalu. Dia gak pernah mengakui ultahnya di kalender masehi. Dia lebih suka mengenang tanggal lahirnya di bulan Ramadhan. So, tiap Ramadhan auara pak Fajar menyala-nyala dan sumrigah banget. Mahyal dan Vinka saking apalnya.

“Anak-anak, karena sekarang bulan Ramadhan, kita bikin agenda baru untuk jam terakhir kelas ini.”
“Agenda apa pak?” Tanya Rudi.
“Agenda pak Fajar ultah dunk!” Sambet Mahyal.
“Husssh!..”Vinka nyubit pinggang Mahyal sambil melotot.
“Auuw!..”

Byaaar…seisi kelas ketawa tumpah.
“Bukan-bukan, agenda kita bikin kegiatan San-Ram. Karena judulnya Pesantren Ramadhan, walau cuma satu jam, kita belajarnya di masjid sekolah. Di sana ada banyak buku keagamaan dan buku doa-doa. Kita akan belajar di sana.

“Aduh Pin, masak aku di suruh ke masjid sih? Aku ogah, aku kan gak puasa.”
“lho,..emang kenapa kalo kamu gak puasa? Koq jadi ogah ke masjid? Jaka Sembung banget.”
“Yah ni anak, lemot banget ceh. Aku gak puasa kan karena aku gi dapet!”
“Upss..”
“Jadi gimana dunk?”
“Bolos aja!”
“Aku gak biasa bolos.”
“Tenang ntar aku ajarin, gini-gini aku jago bolos, kamu tinggal pilih mo bolos pake gaya apa, ntar aku ajarin!”
“gaya kelinci.”
“Yaudah bolos aja sambil loncat-loncat, kalo gaya ular, bolosnya sambil geal-geol, kalo gaya kucing, bolosnya sambil meang-meong.”

“Ehem..Ehem.. Vinka, Mahyal! Kenapa berisik sendiri?”
“Ini pak, Mahyal gak mau belajar di Masjid.”
“Boleh tahu alasannya?”

Vinka nyikut pundak Mahyal.
“Eh, anu pak, mendingan di kelas aja, lagian kelas kita hawanya asri dan sejuk. Iya kan teman-teman?” Ceplos Mahyal ngasal.

“Wuuuuuuuu…”
Vinka nyikut lagi,
“Asri dan sejuk Mbahmu!..”

“Bapak mau saja kita belajar di kelas, asal Mahyal mau ngangkut buku-buku dari masjid, gimana?”
“Bukan begitu pak.”
“Lalu kenapa?”
Mahyal bener-bener mati kutu, mualnya kumat lagi.
“Lalu kenapa Mahyal?”

“Anu pak, Mahyal kan gi dapet.” Spontan kalimat itu keluar dari bibi Vinka setengah teriak.
Seisi kelas ketawa. Kali ini Mahyal ambruk beneran.

( Lutfi Syarifudin )

 
2 Comments

Posted by on September 11, 2009 in Cerita Fiksi

 

Tags: , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.