Aku bosan, Ega muak. Bukan saatnya lagi buat aku memposisikan dia sebagai anak yang terlalu belia untuk dimanja. Ega muak dengan kehidupannya yang tak pernah dianggap bisa dewasa. Dengan detail aku menangkap sinyal kejenuhan itu. Maka bukanlah sesuatu yang nekat bila malam ini aku dan Ega cuma berdua gardu Wonotirto di kaki gunung Sumbing.
Ini malam minggu, larangan keras bagi Ega untuk keluar rumah. Dan Hendry yang menjadikan malam ini malam nekat. Cerita simpel sengaja disiapkan untuk ortu mereka ( Hendry dan Ega ). Sedikit klise: yaitu sore hari Hendry jemput Ega dari bimbel tapi pulangnya agak malem karena sekalian nganter aku nyervis Javelin. Itu kronologi yang disajikan buat ortu mereka.
Kenyataannya Hendry “nyerahin” Ega ke aku biar dia bisa mampir ke Megaplex dan pulang agak malem dan ngambil Ega dariku lagi kemudian pulang membawa Ega dengan selamat. Dia gak mbiarin Ega pulang duluan biar gak ketahuan kalo dia ngloyor ke Megaplex. Di siniah aku dimanfaatin Hendry.
Dan aku? Malah mulus banget balas dendam manfaatin situasi buat nongkrong malem mingguan sama Ega. Ini special, tadinya mana mungkin Ega bisa keluar malam mingguan gini?, dan terlalu special karena ini malam minggu paling sepi di dunia. Kami cuma berdua di gardu Wonotirto lereng gunung yang cukup tinggi bahkan jauh dari aliran listrik di sekitar kami.
Kenapa kami di sana? Jawabannya bukan karena nekat, itu karena aku tak mungkin membawa Ega ke tongkrongan ramai khas malam mingguan anak muda. Itulah kenapa ortunya melarang dia malming diluar rumah.
Di tempat ini, kira-kira 800M lebih tinggi dari pemukiman penduduk lereng gunung Sumbing. Tak ada lampu listrik kecuali beberapa di sepanjang jalan yang kami lewati. Di sekililing kami ladang jagung dan tak jauh di atas kami hutan pinus yang tak terlalu lebat.
Ega tahu maksud suasana ini, dia paham kalau di dataran tinggi ini, dan jauh dari penerangan listrik akan membawanya ke panorama langit yang Indah.
Tempat ini jarang dijangkau oleh banyak orang kecuali penduduk sekitar, dan saat ini, tempat ini cuma milik Ega. Dia tak mau berkedip sebelum memergoki sebuah meteor masuk ke bumi. Milyaran bintang dengan rasi yang begitu mempesonanya tak tergambarkan dengan kata-kata.
Ega hilang dibawa suasana lain yang belum pernah dia lihat.
“kak..boleh gak?”
“Boleh apa sayang?”
“Boleh gak Ega nangis?”
“Nangis untuk apa?”
Ega menggeleng…akupun tak menuntut dia menjawab, karena dulu ketia pertama kali aku ada di sini, akupun ingin nangis.
“Boleh kak?”
“Tentu boleh, kenapa enggak?”
“Tapi Ega nangisnya dipelukan kak Lutfi, boleh?”
Tanpa menunggu aku menjawab dia sudah bersandar dipelukanku sambil menangis memandangi bintang-bintang terindah yang belum pernah kami lihat. Aku belai rambut Ega yang kental, dan kuusap air matanya. Pipinya halusnya lembab, kalau bukan karena gelapnya malam itu, pasti terlihat kesenduan yang memerah dari pipi beningnya.
Ega menahan tanganku.
“Kenapa mesti diusap air mataku kak? Biarin aja mengalir..Ega pengin ngeluarin semua yang selama ini selalu dihalangi untuk keluar.”
Yang aku rasa, malam ini Ega sangat beda, bahkan dia bukan Ega, dia tak memanja dan sikapnya dewasa. Kata-katanya tak judes. Dan kali ini dia tak menyinggung Vanes. Cewek yang bikin dia jeales. Nama itu sensitif buat Ega. Malam ini, tak ada bayangan ruh Vanes yang mengganggu Ega. Nampaknya dia sudah memenagi hatinya sendiri. Secara dewasa dia sudah menganggap memilikiku utuh.
Dia tak lagi mengurus yang tak perlu, dia tak terbesit untuk memikirkan Vanes yang selalu dia tuduh sebagai cewek caper yang merebutku darinya.
“Selain air mata, apalagi yang selama ini terhalangi untuk keluar?”
“Isi hati Ega..tolong biarin dia keluar, Ega gak bisa nyegah kak”
Ega semakin mendekatkan dadanya di pelukanku, air matanya mengalir kencang, nafasnya mendesah sesenggukan. Dadaku basah, pelukanku semakin erat, kubiarkan air mata dan isi hatinya mengalir didadaku.
Aku dan Vanes pernah sepakat, menangis itu sehat. Maka dari itu aku tak pernah melarang dia untuk menangis. Dan kali ini Ega, aku yakin setelah tangisnya reda, dia akan kembali lahir menjadi bidadari anggun kembali. Dan, menangis membutuhkan energi, untuk itu, aku sudah sangat siap bila beberapa menit ini Ega terlelpa pulas di dadaku.
Aku berjanji tak mau kehilangan bidadari indah yang ada dipelukanku ini. Walau ditukar dengan Vanes sekalipun.
Aku tahu Ega tak sepenuhnya terlelap.
“Cantik, coba deh lihat ke atas!”
CLAAAP!!!..sebeuah meteor kecil masuk menembus atmosfir dan meninggalkan goresan kecil.
Ega menangkap kilatan itu.
“Indah banget ya kak..”
“ Ega gak kalah indah dari langit itu.”
“iih..kak Lutfi ni..Ega ntar nangis lagi lho!..”



