RSS

Category Archives: Film

Pesan Kejeniusan Oleh Para 3 Idiots

Mendengar segala hal tentang India, biasanya saya langsung ilfeel. Kecuali setelah disadarkan oleh film “SlmdogMailionare”. Sekarang, saya kembali disihir oleh film super cerdas berjudul “3 Idiots.”

Ini film Bollywood tentang kisah ketololan 3 pemuda India yang menyampaikan pesan kejeniusan di dalamnya.

Uniknya, “3 Idiots” yang banyak menggugat sistem pendidikan ini disampaikan dengan sindiran-sindiran jenaka yang kita sebagai penonton akhirnya sukses tertawa untuk menertawai kesemrawutan pendidikan konvensional yang selama ini kita temui. Ya kita akhirnya dipaksa untuk menertawai dunia kita secara sengaja.saya jadi Teringat saat belajar di Assalaam Temanggung dan dibimbing oleh ust Mufilh Wahyanto

“3 Idiots” memang mengisahkan 3 pemuda yang dianggap idiot yaitu : Farhan, Rancho dan Raju. Namun pada substansi film tersebut, nyatanya semua tokoh yang berperan, menyampaikan pesan masing-masing.

Rancho si jenius yang masuk dalam kasta 3 idiots dengan sikap tersirat berusaha merobohkan sistem pendidikan yang menurut dia diibaratkan seperti mesin yang dipaksa bekerja keras menghafal materi pelajaran.

Sedangkan di pihak seberang ada Chatur si mahasiswa teladan memaksimalkan diri menempuh kesuksesan dengan memburu prestasi di kampusnya. Di film ini digambarkan jelas tentang persaingan otak kanan (Rancho) melawan otak kiri (Chatur).

Farhan dan Raju dengan latar belakang keluarga masing-masing juga urun pesan disini. Yaitu pesan tentang ayah Farhan yang kekeuh mendambakan anaknya menjadi insinyur mesin, padahal Farhan sama sekali tidak menyukai mesin, yang dia suka adalah fotografi alam liar.

Keinginan ayah Farhan sangat beralasan, dia pikir menjadi insinyur mesin bisa sukses dan memiliki mobil mewah kemudian bahagia. Namun jauh di lubuk hati farhan kebahagian baginya ada manakala dia bisa menyalurkan hobynya.

Disinilah banyak kita temui scene mengharukan ketika Farhan dan sang ayah saling mencoba meyakinkan pendapatnya dengan kalimat-kalimat “nendang”.

Sedangkan Raju yang aslinya menyukai mesin tapi tak pernah mendapat prestasi baik di kampusnya. Maka Rancho menganalisa dengan klaimnya terhadap Raju yang terlalu penakut, menggantungkan pilihannya kepada jalan yang ditentukan dewa. Dia digambarkan sebagai ahli ibadah yang lebay, saking alimnya, jalan hidupnya tak realistis. Dia banyak mengenakan cincin untuk perlindungan keluarganya. Namun karena sikap itu, dia jadi ketergantungan terhada dewa dan takut merubah jalan hidupnya.

Kisah cinta antara Suhal dan Pia (anak Mr Virus, rektor kampus 3 idiots) juga menjadi bagian dai pesan moral film ini. Bahwa cinta yang sebenarnya tak bisa dinilai dengan pemberian barang mewah. Seperti yang sering dideskripsikan tentag tokoh suhal yang di film ini dijuluki “Si label harga”.

Kemudian sikap diktaktor Mr Virus yang memaksa anak-anaknya, murid-muridnya untuk tunduk dalam sistem yang dia bangun. Tokoh Mr Virus tak kalah memberikan efek “o iya..ya” kepada kita para penonton untuk menyadari keburukan sistem otak kiri di dunia kampus dan keluarga.

Di film ini walau Farhan diposisikan sebagai narator yang mengisahkan pengalaman belajarnya di kampus dulu, namun yang menjadi tokoh sentralnya adalah Rancho. Si baba perubah mindset semua orang-orang di sekelilingnya. Film ini bagaikan film “sang Pemimpi” (SP) di mana Lukman Sardi (Ikal Dewasa) menceritakan Arai yang menjadi sahabat tercintanya saat remaja dulu.

Namun tak seperti SP, yang kita diberi banyak ruang unduk menye-menye mengaru biru, terlebih didukung scorring musik olahan Titi Sjuman dan Wong Aksan yang begitu menyentuh. Di 3I, banyak adegan mengharukan namun tetap saja dibalut dengan aneka kekonyolan. Seperti penyadaran sosok jenius Ranchu si baba penyelamat yang nyatanya tak sempurna. Dia banyak memberi motivasi dan merubah pola pikir orang lain, namun dia sendiri takut menyatakan cintanya kepada Pia.

Tak ada adegan renungan dengan aluanan  musik yang melankolis di scene ini, yang kita dapati malah ceng-cengan hinaan dari Raju dan Farhan sambil menertawai habis-habisan. “Kau menyuruhku untuk tak takut menghadapi wawancara, tapi kau sendiri takut mengungkapkan cinta kepada Pia. Kalo kamu bisa mumbuktikan keberanianmu itu, maka aku janji, aku tak akan takut menghadapi apapun.” Itu kata Raju.

Sedangkan Farhan bertaruh akan berani bicara kepada ayahnya untuk beralih menjadi fotografer, bila Rancho mampu mengungkapkan cintanya pada Pia.

Maka disinilah lagi-lagi kita temui kembali pesan moral tentang cinta pada film Idiot, juga disajikan dengan kalimat tak sendu namun konyol:

“22 menit yg kulewati berasamamu di motormu, itu 22 menit yg terbaik dalam hidupku.aku rela habiskuan hidupku di motor itu.”

Dalam satu Film ini kita akan temui beragam pesan moral, diantaranya:

-Sistem pendidikan –> Ada di scene saat Rancho diminta mengajar di depan kelas oleh Mr.Virus

-Ilmu pengetahuan –> Kita diingatkan bahwa air asin adalah menghantar listik terbaik (termasuk air kencing hehe)

Juga ketika Rancho berhasil menyalurkan sumber dari aki ke komputer saat persalinan kakak Pia.

-Hakikat cinta –> Simak upaya Rancho merebut Pia dari Suhal!

-Hubungan ortu dan anak –> Kita bisa pahami tentang kesalahan mendidik anak oleh ayah Farhan yg egois, ayah Pia yang diktaktor dan ayah Ranchadas Chanchad yang terobsesi butuh gelar untuk anaknya untuk tetap jadi keluarga terpandang.

-Persahabatan –> Ketika Rancho menyelamatkan ayah Raju,

-Pengorbanan –> Ketika Rancho mencuri soal ujian untuk Raju

-Pembajakan ilegal –> Apakah Anda pikir Farhan sedang menjawab pertanyaan dari Pia ketika dia bingung mengapa ada Chatur yang terbekap di mobil? Farhan menjawab: “Cerita  ini rumit untuk dijelaskan, bahkan tak ada subtitlenya.”

Saya baru menyadari, saat itu Farhan sedang berpesan kepada pembajak film ilegal, yang habis download langsung cari subtitle terjemahan film tersebut. Apalagi kualitas terjemahan subtitle yang gak karuan, maka menikmati film ini menjadi cerita rumituntukdijelaskan.

Bukan  begitu?

 
Leave a comment

Posted by on September 24, 2010 in Film

 

Tags: , ,

Alasan Menonton Atau Menolak Film 2012

poster film 2012

Kalau saya mereview film 2012 mungkin sudah basi, biasanya sebuah resensi film ditulis sebelum film itu rilis di bioskop untuk sekedar promosi. Tapi justru sengaja saya tulis setelah banyak teman-teman menontonnya ( mungkin).
so, tujuannya bukan untuk mengajak nonton bagi yang belum, tapi untuk mengumpulkan testimoni  tentang film tersebut.

Saya sendiri mendengar nama Roland Emmerich sebagai sutradaranya langsung ilfeel.
Roland merupakan filmaker spesialis scie-fi (fiksi ilmiah) yang bertumpu pada efek komputer semata, sedangkan alur ceritanya dibuat karena sekedar perlu saja. tak ada plot yang berbobot. Hasilnya, film-film yang dibuatnya bercirikhas kekonyolan, pemaksaan dan profokasi menjijikkan. yang paling parah, profokasinya bermuara pada kesuper-poweran Amerika. Teman-teman merasakannya bukan?

di filmnya terdahulu yang berjudul “Independence Day” Roland mengisahkan perlawanan manusia bumi VS Alien. Dan tentu saja dari pihak manusia, pahlawannya adalah orang-orang Amerika. “Independence Day” begitu hambar ditonton. Kalau bukan karena Will Smith pemeran utamanya, mungkin film ini tak laku di pasaran. Parahnya, “Independence Day” bakal dibuat sekuelnya lagi. Sebelum nanti nongol di bioskop, boleh kita prediksi, yaitu kisahnya pasti melulu tentang perang dahsyat rasa Amerika banget. mari kita tunggu kebenaran prediksi ini, hehe..

Daripada “Independence Day”, saya lebih suka melihat akting Will Smith di film “The Pursuit of Happyness”. Film itu merupakan kisah nyata seoarang milyarder yang bermula dari kebangkrutan dan pernah hidup menggelandang. Kisahnya mengharukan, Saya hampir nangis menonton film tersebut. Persis seperti apa yang pernah saya alami dulu ketika saya hidup di jalanan.

Tahun 2004 Roland membuat “The Day After Tomorrow”, Lagi-lagi Roland  cuma  pamer efek komputer saja. Ceriatanya tentang efek blobal warming yang berimbas pada pencairan es di antartika. Sama seperti gaya penceritaan dia di 2012 yang bermula dari temuan ilmuwan tentang kejanggalan bumi, selanjutnya usaha evakuasi. Sisanya efek komputer yang beradu akting. Roland menutup “The Day After Tomorrow” dengan ending yang janggal dan maksa banget. Tiba-tiba saja bumi pulih, bersih dengan sendirinya. Kita tak dapat apa-apa dari film tersebut kecuali hanya menonton visualisasi rekaan belaka.

Kembali ke film 2012 yang teramat naif itu. Bagaimana sang Amerika berusaha mengevakuasi manusia dari kiamat. Konyol, dan memang Roland Emmerich selalu saja mengesampingkan kualitas narasi penceritaannya. Kemudian sisanya hanya dominasi kecanggihan komuter saja. Memang begitu kan?

Sebenarnya film-filam karya Roland Emmerich punya potensi besar untuk diramu ke jenis film dokumenter, yang nantinya banyak memberi pesan moral yang tajam. Yaitu nasib bumi yang sudah semakin parah. Dari Global warming yang mencairkan gunun es di kutub utara, hingga lemahnya kekuatan kerak bumi karena kepanasan sehingga gempa terjadi di mana-mana. Itu semua tak jauh dari visualisasi yang digambarkan di  “The Day After Tomorrow” dan “2012″. tak perlu dipaksakan menggunakan alur cerita yang konyol dan menuntut ending janggal. Sebuah pesan dan kesimpulan saja cukup. Maka efek komputer Roland tak lagi jadi bahan tertawaan tapi berbuah menjadi perenuangan akan upaya penyelamatan lingkungan.

Sayang, film bergenre dokumenter tak begitu laku untuk dikomersilkan, terlebih di Indonesia yang paling jarang memesan film-film begituan.
Roland Emmerich memang dilema, sudah menjadi rahasia umum di dunia perfilman. dimana Hollywood punya otoritas memetakan opini dunia melalui film. Tentu saja Amerika yang jadi pahlawan dan memiliki musuh dari negara yang itu-itu saja seperti Rusia, Jepang dan Timur tengah. Begitulah pencitraan negara-negara versi hollywood.

Di film perang atau militer juga sama. Oliver Stone sempat membayar mahal untuk menyewa properti peperangan ketika membuat film Platoon. Film ini sudah sering diputar di TV karena rilisnya sudah lama. Bahkan Johny Deep yang sekarang gemilang jadi captain Jack Sparrow di tiga film Pirates of Caribean, di film Platoon dia masih  culun dan mendapat peran sebagai cameo doang.

Film Platoon dibuat dengan budget yang mahal karena penceritaan tragedi perang Amerika VS Vietnam yang terlalu jujur, dimana Amerika mendapat kekalahan di film tersebut. Persis seperti kejadian aslinya dahulu. Namun jarang kita dengar bahwa negara kecil seperti vietnam pernah mengalahkan Amerika sang super power kan?
itulah, betapa suksesnya hollywood merekayasa sejarah melalui film.
Dan melalui film-film fiksi ilmiah karya Roland Emmerich pula Amerika meneruskan profokasi tersebut.

Sekarang apa pendapat teman-teman tentang fenomena ini?
silahkan proaktif berkomentar apa saja di sini.

Salam Hangat,

Lutfi Syarifudin

 
1 Comment

Posted by on November 22, 2009 in Film

 

Tags: , , , ,

Prediksiku Benar, Slumdog Millionaire menang

kalo dah baca postinganke kemaren tentang Slumdog Millionaire pasti ngiyakan kalo film tersebut bakal nyabet penghargaan di penghargaan bergengsi perfilman International, seperti yang aku tulis kemaren tentang Slumdog Millionaire, kalo film yang dah berjaya di Golden Globe, pasti bakal berjaya pula di Oscar. Secara emang dah seakan jadi prediksi wajib, bahwa Golden Globe merupakan bayangan dari Oscar.

Prediksiku yang lain dan ternyata benar ada pada Aktor pemeran pembantu terbaik, yang ternyata dan emang wajib harus jatuh pada Heat Ledger yang ngrubah Image Joker sebagai musuh seram Batman, menjadi sosok Joker yang “seksi” .

Revolusi Batman emang dah dirombak sejak kursi sutradara dipegang sama Cristopher Nolan. Di tangan dia Batman yang dalam komik maupun film-film terdahulu digambarkan sebagai sosok pahlawan super hero yang memiliki kekuatan dahsyat.

Nolan merubah Batman sejak dia menyutradarai Batman Begin, awalnya dia sukses menghadirkan batman sebagai manusia alami, tak hyperbolis seperti Spiderman, Fantastic Four apalagi Superman.

Di sekuel keduanya, Nolan merevolusi Joker, tak salah dia menggaet Heath Ledger untuk memerankannya. Terbukti aktor asal Australi itu mampu bermain gemilang di Broukback Mountain yang di sutradarai oleh sineas Taiwan Angg Lee.

Sayang hetah Ledger dah keburu over dosis mpe mati, kalo dia nggak ngedrugs, siapa tau Ang Lee bakal mereuni para pemain andalannya dalam filmnya suatu saat. Dan maybe heath Ledger bakal mein satu film bareng Lola Amalia aktrts Indonesia yang pernah main di filmnya Angg Lee.

Patung manusia kuning untuk Ledger akan dipegang anaknya ketika dia berusia 18 tahun kelak. Sekarang dia baru berusia 3 tahun, jadi simbol pernghargaan itu dipegang ibunya.

di Academy Oscar ke 81 ini, The Curious case of Benjamin Button juga mendapat penghargaan, sama seperti prediksiku di postingan kemaren
tapi sedikit meleset. Aku nyangka film tersebut bakal dapet penghargaan the best Picture, nyatanya bukan itu.

Ni list pemenang yang diumumkan 22 Februari kemaren (kalo di Indo dah tanggal 23 ):

Best Picture

“Slumdog Millionaire”

Best Actor

Sean Penn, “Milk”

Best Actress

Kate Winslet, “The Reader”

Best Supporting Actor

Heath Ledger, “The Dark Knight”

Best Supporting Actress

Penelope Cruz, “Vicky Cristina Barcelona”

Best Director

Danny Boyle, “Slumdog Millionaire”

Kate Winslet sempat dikhawatirkan karena selebaran gelap yang diisukan sebagai bocoran pemenang Oscar tidak dimasukkan. Yah namanya juga selebaran gelab, nggak ngefek pada penjurian asli.

Akting dia di The reader emang top, ya makannya dia menang.

Sedang Sean Penn gak diragukan lagi, dia dulu pernah main di I am Sam bareng Dakota fanning. Gak diragukan, pokoknya siapa saja yang main dengan Faning si bintang cilik edan itu, tentu bukan aktor kelas teri. Pasangan Fanning di tiap filmnya emang pemain dengan kualitas akting hebat.

Yang main dengan faning Ada Britany Murphy di Uptown Gril,  , Charlize Theron di Trapped, Tom Cruse di War Of World, Densel Washington di Man Of Fire dll lah,..

Lutfi Syarifudin..

 
4 Comments

Posted by on February 24, 2009 in Film

 

Tags: , , , , , , , ,

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire bukanlah film India, cuma setingnya aja di sana. Sutradaranya adalah Danny Boyle, yang kemaren baru memenangkan Golden Globe. Di prediksi hari ini,22 Februaru 2009, Slumdog Millionaire bakal nyabet piala bergengsi perfilman di planet ini.

Karena sudah umum Golden Globe merupakan bayangan Oscar, siapa yang berjaya di Golden Globe, tentu nasibnya tak jauh beda di Oscar nantinya.

Yang menyelamatkan Slumdog millionaire menurutku karena tidak jadinya Syarukh Khan main di situ. Dah lama aku alergi sama manusia yang bertmapang dangdut kebelet ke toilet kalo ndenger jazz.

Syarukh Khan punya tampang yang memberatkan image sebuah film pada kerendahan levelnya. Misal ada konser Jazz yang dinyanyikan oleh Goerge branson, dan di hadiri oleh Assila Zahrantiara, sivia Azizah, tompi, Jadug dan Iga mawarni, kemudian dia datang,..bisa kebayang yang terjadi, penggemar dangdut bakal ngefly di situ Shila dan sivia pun kliyengan mual-mual.

itulah analogiku buat syahrukh khan, kalo sampai main di Slumdog Milliaonaire, maka orang sekelas Charlize Theron yang menikmati film itu bakal lari.

aku bukan merendahkan sineas India, cuma filmya aja. Buktinya M night Sahyahmalan mampu bikin Lady in The watter dan The Six Sense yang dibintangi Bruce Willis.

kembali ke Slumdog Millionaire, apakah film itu bakal dapet Oscar?

Sepertinya Iya, cuma untuk kategory best picture kayaknya diraih sama The Curious case of Benjamin Button,  David Fincher emang keren bikin kualitas gambar era pernag dunia II dulu.

Dia dulu juga pake Brad Pitt buat trilogi film Ocean Twelve.

Dan prediksi aku paling kuat ada pada Heath Ledger, yang bakal dapet pemeran pembantu terbaik di The Dark Knight. Dulu aku terpesona aktingnya di BroukBack Mountain bikinannya sutratdara Asia Ang lee.

Na pas dia dapet penghargaan sutradara terbaik  sekarang Ang lee langsung nyabet Lola Amalia, aktris Indonesia buat main di filmnya. Lola di Indo bikin film Betina, filmnya aneh kayak orangnya, dan akhirnya ketemu sutradara lebih aneh, yaitu si Ang lee tadi.

foto Slumdog Millionaire diambil dari: http://dainelmontgomery.wordpress.com

 
3 Comments

Posted by on February 22, 2009 in Film

 

Tags: , , , , , , , ,

Mendamba Bond Tanpa Senjata Canggih dan Gadis Seksi

Quantum of Solace

Quantum of Solace

Ada dua hal yang selalu ditunggu oleh penggemar fanatik film-film James Bond, yang pertama adalah apa senjata canggih barunya? Dan yang kedua adalah siapa partner wanitanya?

Untuk genre film action yang mengagkat kehidupan seorang agen, senjata canggih tak begitu menarik dibahas. Semakin jauh kita fokus memperhatikannya, semakin kita tertinggal mengikuti alur cerita yang semestinya menjadi tujuan utama kita menonton film. Banyak lompatan logika yang disajikan oleh senjata canggih Bond yang kadang terkesan irasional dan mengada-ada.

Senjata-sejata tak lazim Bond lebih banyak ditampilkan pada film-film Bond era 80-an. Senjata canggihnya “dipaksa” ada saat si agen 007 tersebut berada dalam situasi yang pelik. Ketika Bond terjebak di tengah rawa dan hampir tenggelam, mudah saja baginya untuk bangkit, arloji di tangannya ternyata mampu menembakkan tali kawat ke pohon, kemudian secara otomatis menarik dirinya ke daratan. Kenapa senjata itu ada? Kenapa ceritanya harus ada adegan terjebak di rawa?

Pada beberapa adegan, senjata Bond memang terlihat wajar dan umum dimiliki oleh seorang agen, namun pada adegan-adegsn tertentu, malah senjata yang seharusnya hanya berperan sebagai pelengkap belaka, berubah fungsi menjadi benda yang memiliki otoritas membuat jalur cerita sendiri. Dalam Casino Royal, chip mini yang hanya seukuran satu butir beras, tak akan bisa memberikan pesona kecanggihannya bila Bond menjalani hidup tanpa menemui masalah sedikitpun. Tetapi, bagaimananpun chip mini itu harus mampu membuat penonton berdecak kagum, maka dari itu, si antagonis yang cerdik, terpaksa harus menanggalkan idealisme kecerdikannya dengan menyerang Bond menggunakan cara paling tak berwibawa, yaitu meracuninya. Terlalu pintas untuk musuh sekelas antagonis Bond.

Dengan sekaratnya Bond, maka keajaiban mandraguna chip tersebut bisa dimainkan, entah apa logikanya, Chip tersebut menjadi benda ajaib yang bisa menghubungkan dia dengn M, bos utamanya. Bahkan berkomunikasi lagsung dengan markas, hingga mengidentifikasi gejala tubuh Bond.

Kita menonton film tentu untuk mngikuti alur ceritanya, namun emosi dan intelektual kita, kadang juga dipaksa ikut bermain dengan racikan adegan menegangkan, menyedihkan, dan lain sebagainya. Bond pun demikian, kita yang hanya ingin mengikuti kisahnya, juga dituntut untuk menganalogikan senjata-senjata mutakhirnya. Senjata-senjata aneh itu di benak kita hanya ada dalam mimpi saja, namun sang sutradara punya konsep stop dreaming start action sehingga semua menjadi relevan di mata penonton.

Posisi sama dengan senjata Bond juga dialami oleh partner wanitanya, atau lebih dikenal dengan “gadis bond”. Kedudukan mereka hanya difungsikan sebagai pelengkap untuk membumbui nilai tambah belaka. Karena itu, sengaja Vesper Lynd ( Eva Green ) sang gadis Bond dalam Casino Royal, terpaksa harus mati di film tersebut.

Dengan matinya Vesper, di Quantum of Solace film terbaru Bond, Daniel Craig bisa menggandeng wanita lain. Kali ini dua wanita sekaligus yang berada disampingnya yaitu Olga Kurylenko dan Gemma Arterton.
Apa motif pembunuhan Vesper? Tentu karena adegan baku hantam dengan musuh, bila kita lihat melalaui ceriatanya. Tapi coba tanya Barbara Broccoli dan Michael Wilson sang produser, jelas bukan itu jawabannya. Karena merekalah sang pembunuh Vesper sebenarnya, mereka mengiginkan Vesper mati dalam film Casino Royal, sehigga memiliki alasan untuk melahirkan gadis Bond lain.
Para penggemar yang tadinya sudah ngeh dengan Vesper, kembali diberi “PR” untuk mengira-ira sang gadis Bond baru itu. Apakah pendamping Bond kali ini sama dengan Vesper? lebih cantik atau lebih jelek? Kenal dengan Bond di mana? Apa karakter yang ada padanya?

Mestinya Bond harus merasa tersindir dengan trylogi film Bourne, film agen yang diperankan oleh Matt Damon itu justru bertolak belakang dengan Bond. Dalam tiga film Bourne, yaitu Bourne The Bourne Identity,
The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum Matt Damon tak diidentikkan dengan senjata canggih, dia juga teramat dingin dengan wanita..
Namu justru di situ daya tariknya. Tanpa senjata canggih dan wanita seksi, Bourne mampu menjadi film yang memikat. Semsetinya Bond bisa bercermin dengan Bourne.

Gadis Bond lain, lebih dari satu pula, menjadi magnet para penontonnya.

Lutfi Syarifudin

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2009 in Film

 

Tags: , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.