Sudah 1 jam lewat Ella cerita ke Mia tentag Tiwi teman baru di kelasnya. Di tengah “jalan” tiba-tiba Mia nyela:
“Kakak Tiwi yang kata kamu mirip Bambang Pamungkas tu siapa namanya yak?”
“Aduh Mia, kakak Tiwi kembarannya BP tu namanya Mas Adit,..Adit,.Adit.. kan dah berkali-kali tak jelasin, masa lupa mulu?“
“O iya namanya Adit, sorry!”
“Mia,.aku dari tadi ngobrol ma kamu koq nggak nyambung-nyambung sih? Hayo dari tadi mesti kamu gak dengerin aku ngomong! Pasti pikiranmu kemana-mana iya kan? Iiih jahat banget sih kamu!”
“Enggak kok La, aku denger semua ceritamu dari awal sampe akhir. Suer berani dikutuk jadi langsing kalo aku mpe boong.”
“Kalo kamu denger semua ceritaku, sekarang tak tanya,
Kemeren Tiwi kerumahku mo pinjem apaan coba?”
“Buku fisika kan?”
“Bukaan!!
Dia ke sini mo pinjem komik “Kambing Jantan”!
Iih tu kan bener, kamu tu dari tadi ngalamun aja pas aku cerita,
Nyebelin banget sih kamu!”
Hayo..hayo..hayo..ngaku! kalian pada pernah ngalami kasus kayak Ella dan Mia pas lagi ngobrol bareng temen kan? Walau lawan bicara kita jarang nyadar kalo kita nggak fokus ndengerin, tapi kadang pikiran kita emang sering tamasya sendiri pada saat yang nggak tepat. Misalnya pas ada orang curhat ke kita, ato ketika kita sedang mendengar guru ngajar ( ya iyalah masa guru nguli? ). Kondisi kayak gini mirip zombie, alais mayat hidup kan?
Ada dua faktor yang bikin suatu komunikasi itu nggak berjalan dengan baik. Yaitu faktor intern dan Ekstern. penyebab intern yang datang dari diri sendiri timbul ketika seseorang nggak siap jadi pendengar. Orang mengalami kondisi kayak gini biasanya disebabkan oleh banyak pikiran, bad mood dan gangguan kesehatan.
Zaid pernah ngalami kejadian kayak gini di mini market tempat dia kerja. Awalnya dia cuma iseng ngalamar kerjaan di situ, hanya buat ngisi waktu kalo-kalo dia nggak jadi dapet beasiswa di perguruan tinggi favoritnya. Dari lamaran iseng itu, gak nyangka gayung bersambut. Dia beneran keterima kerjaan di situ sebagai kasir mini market walau sepenuh hati dia gak begitu siap.
Gara-gara beasiswa yang dia buru nggak jadi dia dapet, di minggu-minggu awal dia mulai kerja, banyak sekali kesalahan yang dia bikin karena gak konsen kerja. Kejadian suatu ketika ada ibu-ibu beli susu formula dengan harga 30 ribuan. Pas ibu itu kasih uang 50 ribu, Zaid malah kasih kembalian selembar uang 100 ribu. Berabe deh urusannya.
Tapi itu dulu, Zaid paham apa yang jadi masalahnya, yaitu ketika fisiknya kerja, pikirannya kadang gak ikutan kerja. Dia masih aja kepikiran beasiswa yang melayang itu.
Ketika dia mampu menyingkirkan dan membunuh pikiran yang mengganggu, kerjaannya jadi lancar-lancar aja. Dia bisa mengkomunikasikan sirkulasi keuangan dengan para konsumen.
Kita sebagai orang yang butuh ngobrol lawan seorang teman kudu bijak dan paham kapan saat tepat untuk bercengkrama. Kalo temen kita gi kurang enak badan ato banyak pikiran, jangan dipaksa buat jadi temen curhat kita.
Faktor kedua yang bikin komunikasi nggak berjalan dengan baik ada dari sebab ekstern, yaitu si ketika kita dah siap dengar, orang yang bicara nggak pandai menyampaikan perihal yang dia bicarakan dengan baik.
Yang sering kejadian ada di sekolah-sekolah formal. Murid rajin yang siap belajarpun, jadi nggak nyambung gara-gara yang ngajar nggak pandai ngajar.
Kalaupun si guru emang mumpuni terhadap mata pelajaran yang dia pegang, belum tentu dia bisa mentransfer ilmu dengan sempurna ke anak didiknya.
Dan nyatanya emang banyak guru yang gak pandai berkomunikasi secara verbal bahkan malah grogi sama murid sendiri. Tapi kok ya mereka nekat cari gaji sebagai guru? Inilah Indonesia.
Kalau Bisa Dipermudah, jangan dipersulit
Banyak istilah-istilah yang sebenarnya gak dibutuhkan oleh lawan bicara kita. Sani yang kerja di loket pembayaran listrik online, pernah dikomplain sama nenek-nenek gara-gara komputer yang dia pakai nggak bisa nyetak rekening si nenek. Masalahnya ada pada gangguan data online yang nggak bisa masuk komputer karena sinyalnya putus-putus.
Untuk kasus seperti ini jelas bukan Sani yang jadi penyebab rekening gagal cetak, tentu karena koneksi internet yang nggak lancar, kemudian bikin data rekening nenek nggak muncul di komputernya.
Si nenek mana mudeng dengan problem internet, yang dia paham, kenapa Sani gak nyetak rekeningnya. Sani dah sabar kasih penjelasan tapi sayang, dia ngutarakan dengan penempatan yang salah. Kepada si nenek dia bilang gini:
“Nek, pembayaran rekening listrik ini kan online, jadi semua data nggak bisa keluar kalo koneksi internetnya trouble. Modem yang kita pakai di komputer emang kualitasnya bagus, tapi dasar providernya aja yang bandwicnya payah”.
Mana urus, yang jelas si nenek nyengka Sani kerja nggak bener dan ngecewain pelanggan.
Istilah-istilah bahasa planet kayak gitu yang nggak dibutuhin orang yang nggak ngerti, nggak usah dikeluarin kalo emang nyusahin kita untuk klarifikasi.
Hari ini Sani nggak lagi dikomplain setelah dia bisa kasih penjeasn dengan amat simpel. Ketika problem seperti tadi terulang.
Dia cuma kasih penjelasn singkat seperti ini:
“Maaf pak, rekening Bapak sedang gak bisa dicetak karena datanya nggak bisa masuk ke komputer. Soalnya kantor kami pake sistem internet yang ngandalkan sinyal. Ya mirip kayak HP lah, kalo sinyalnya jelek, sms gak terkirim kan?. Sama kayak data di komputer ini. Silahkan tunggu 10 menti lagi, ntar kalo sinyalnya bagus, data Bapak akan masuk komputer dan bisa dicetak”.
Si babak mudeng-mudeng aja.
Kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan orang dalam dalam berkomunikasi adalah memotong pembicaran lawan bicaranya. Siapapun nggak akan merasa nyaman dan dihargai bila pembicaraannya dipotong tiba-tiba.
Kita akan disegani bila kita bisa menjadi pendengar yang baik, apalagi dengan memainkan ekspresi wajah dengan penempatan yang benar. Misalnya memeasang mimik kaget, sedih, antusias ketika lawan bicara kita sedang membawa suasana kedalam keadaan tersebut.
Menjadi pendengar yang baik tak hanya sebatas dalam komunikasi verbal saja. Kita juga dituntut peka mendengar dengan bahasa hati. Contohnya mendengar keluhan saudara kita yang kena musibah. Anggota DPR kitalah yang semestinya paling wajib memeiliki kemampuan mendengar jenis ini.
Sebaliknya, ketika kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, kita juga harus bisa menyampaikan dengan benar, jujur, apa adanya dan dengan istilah paling mudah dipahami pastinya.
(dimuat di Suara Merdeka )
**Sourch pict: Nadya.web.id