RSS

Category Archives: Jurnalistik

Google Buzz, Jejaring Sosial Versi Google

google buzz

Akhirnya setelah digadang sekian lama, perusahaan Google Inc meluncurkan juga situs jejaring sosial bernama Google Buzz, sebuah situs jejaring sosial yang diprediksi akan menyaingi kepopuleran Facebook dan Twitter. Fitur baru Google ini bisa diakses melalui layanan email-nya yaitu Gmail. Kesan Google ingin menandingi Facebook terlihat pada jadwal peluncuran layanannya (9/2/2010) yang bertepatan seminggu setelah Facebook mengadakan perubahan tampilan website-nya.

Sama seperti Facebook, pengguna Google Buzz dapat meng-update status, saling mengomentari, berbagi link web, foto dan video kepada rekannya langsung melalui Gmail.

Rumus Algoritma yang menjadi jurus andalan Google, membuat nilai tambah di layanan Google Buzz ini.Misalnya pesan status yang dipublikasikan, secara otomatis diindeks dan tersedia dalam hasil pencarian real time Google. Konten juga bisa di-share secara mudah di berbagai produk online Google seperti Picasa dan YouTube.

Fitur ini juga bisa digunakan bagi perangkat mobile berbasis Android. Bahkan akan ada aplikasi khusus Google Buzz untuk sistem operasi Symbian dan Windows Mobile.
Google Buzz juga akan diintegrasikan ke dalam layanan Google Maps sehingga aktivitas sesama pengguna bisa terlihat di peta.

Saat ini, Gmail adalah layanan e-mail terpopuler nomor tiga dunia setelah Windows Live Hotmail dan Yahoo Mail. Jumlah pengguna Gmail pada Desember 2009 mencapai 176,5 juta. Sedang Hotmail dan Yahoo yang masing-masing memiliki 369,2 juta dan 303,7 juta pengguna.

Google Buzz juga memiliki kelebihan lain, seperti pengetikan status tanpa batasan karakter dan impor konten dari berbagai layanan lain. Dengan fasilitas ini, kita bisa berbagi foto dan video serta update melalui Twitter, Picasa, Flickr, dan Google Reader. Sayangnya, Google Buzz belum bisa menampilkan pesan yang berasal dari Facebook

Sebelum meluncurkan Google Buzz, pada 2004, Google pernah meluncurkan jejaring sosial bernama Orkut. Namun Orkut tidak begitu populer. Kemudian Google juga meluncurkan Google Wave, sebuah layanan terbatas hanya untuk pengguna yang diundang saja.

Cara Menggunakan Google Buzz

Pastikan Anda sudah signup ke akun Gmail Anda atau Anda bisa mendaftar di http://www.google.com/buzz,
Kemudian Klik Try Buzz in Gmail

Untuk mem-follow teman kita,. Klik FOLLOWING PEOPLE yang berada di bawah BOX STATUS . pastikan teman kita sudah membuat PROFILE BUZZ. Lalu akan muncul FORM pencarian teman. Anda tinggal mengetikkan nama di BOX yang disediakan, lalu klik SEARCH. Jika ada maka akan ada teman yang kita cari di bagian bawah kolom pencarian. Kemudian Anda klik ADD untuk mem-follow teman kita.

Pada langkah ini anda sudah bisa menggunakan Google Buzz.Selamat mencoba!
(Lutfi Syarifudin)

 
Leave a comment

Posted by on May 12, 2010 in Jurnalistik

 

Bikin Gol dan Evaluasi, Gak Usahlah Nunggu Ganti Tahun

Sekarang emang masih tengah Desember, lom krasa hawa-hawa tahun baru. Tapi gak masalah kalo sejak sekarang kita mikirin target dan evaluasi. Karena idealnya setiap target dan evaluiasi kudu kita program terus-menerus dan berkesinambungan.

Kebanyakan dari kita mungkin bikin gol cuma pas tahun baru aja. Sambil menunggu jam 00.00 tet, kita ngintrospeksi diri. Melongok flesbek perjalanan kita pada tahun lalu. Lalu menyiapkan langakah dan rencana baru untuk tahun berikutnya.
Kemudian setelah koreksi diri, kita akan kembali merancang target kita untuk akhir tahun mendatang.

Rutinitas seperti ini yang juga dilakukan Ningrum, dia punya target ingin menaikkan nilai-nilai ulangan di sekolahnya. Tak hanya itu, cewek keas XI IPA SMAN 2 Bekasi ini juga pengen menambah peranan sosialnya di lingkungan sekitar. Dia pernah juga punya target untuk bisa bermain keyboard di depan umum. Dari perenungannya, dia merasa gak puas membuat gol kok cuma pas tahun baru aja. Karena dia ingin memiliki perkembangan yang cepat, kini dia membiasakan diri merancang gol dengan frekuensi yang lebih singkat, tanpa harus nunggu ganti tahun.

Jujur aja guys, lihat diri kita sendiri, betapa mandegnya kita kalo cuma menjalankan tiap langkah dikoreksi di akhir tahun aja, gak efektif banget kan?
Hidup ini terlalu dinamis dan memaksa banyak perubahan, makannya, kita benar-benar dituntut untuk selalu aktulisasi diri sendiri.tanpa mempedulikan sekarang sudah menjelang akhir tahun atau belum.

Tentu tiap masing-masing dari diri kita punya target tahunan sendirikan? Ada yang pengen tambah rajin, sholeh, kurus, gemuk de el el.
Wajar, itu sudah menjadi kebutuan hidup pengembangan diri manusia.

Masih ingat Chatrinee Siswoyo kan? Tu lho si email dari Amrik tu, dulu pada awal tahun baru 2007 dia juga sempat bikin gol untuk ngurusin badan lho! Secara di Philadelpia tempat dia tinggal, udaranya dingin, kondisi kek gitu bikin dia males beraktifitas dan lama-lama bikin gemuk deh.
Ada juga Arif, sebagai seorang kakak, cowok asal Banyumas itu punya target pengen nyekolahin semua adek-adeknya. Hebatkan?

Dalam berbagai kondisi kita yang kadang kita kira banyak keterbetasan, punya gol yang tinggi tu pantes gak sih? Ya pantes-pantes aja, asal kita tau caranya dan berani untuk mewujudkannya.

Naa..biar target yang kita buat mudah tercapai, kita perlu memenej dengan baik. Ini dia tipsnya:

Yang pertama, target yang kita bikin haruslah merupakan suatu hal yang positif dan bermanfaat bagi kita. Misal ningkatin nilai ulangan, ningkatin ibadah, ningkatin rasa sayang ke ortu de el el. Sedang peningkatan kemalasan, kemanjaan atau bahkan njongkoin nilai ulangan, jelas gak akan kita masukin daftar gol kita.

Kedua, jangan terlalu muluk-muluk dalam membuat target. Sesuaikan dengan apa yang benar-benar kita mampu dan kita kita mampu berdasarkan kemampuan kita. Katakanlah saat ini kita sedang menghafal Alquran juz 30, karena saking semangatnya, timbul keinginan untuk menghafal 5 Juz lagi untuk beberapa bulan mendatang. Boleh saja, asal sesuai dengan kemampuan kita. Kalau kemampuan menghafal kita rata-rata 1 juz perbulan, jangan ambil target 3 bulan untuk menghafal 5 Juz.
Gol yang terlalu tinggi dan berada di luar jangkauan kita, bisa berimbas menjadi suatu keputusasaan. Dampaknya, belum sampai 1 bulan kita akan merasa sangat berat dan akhirnya tidak meneruskan gol tersebut samasekali. Dilihat dari niatannya, gol seperti ini positif dan spektakuler, tapi hasilnya malah akan nihil, karena kita membuat gol yang kita sendiri tak kuat menjalankannya.

Ketiga, jangan terlalu rendah membuat gol, misal masih dalam target menghafal Alquran, kalau kita sudah punya niat menghafal, jangan membuat target satu minggu satu ayat saja. Gol semacam ini terlau remeh dan tidak bagus untuk perkembangan target yang sudah kita niatkan sendiri.

Keempat, alangkah baiknya kalo tiap gol yang kita targetkan, kita tulis di kertas dan ditempel di kamar ato tempat yang sering kita lihat.
Cara ini selain bisa menghindarkan kita dari melalaikan gol kita, juga bisa membantu kita untuk terus memonitoring setiap saat dengan frekuensi yang sering. Semakin sering kita memonitoring gol kita, semakin efektif kita mencapainya.

Kelima, Kita harus serius dan memilki sikap konsisten dalam memperjuangkannya.
Termasuk juga memberi dedlen untuk batas waktu akhir pencapaiannya. Tanpa kita buat dedlen, kita tak akan merasa punya kewajiban menyelesaikan gol kita dengan segera. Jangan pula kita membuat dedlen dengan masa 1 tahun untuk gol-gol yang sederhana.
Seperti ketika kita mengoreksinya di tahun baru.

Keenam, Harus yakin kalau kita mampu mencapainya. Berapapun orang yang mengatakan target kita terlalu mustahil, tapi kalu kita yakin tahu cara mencapainya, serta punya alasan untuk mewujudkan. Tentu kita tak perlu takut untuk memperjuangkannya.

Ok pren, kesimpulannya, dalam kehidupan yang masing-masing dari kita selalu dipaksa untuk menambah aktualisasi diri, kita akan dipaksa jatuh bangut dalm memperjuangkan target-target yang kita impikan. Konsekuensinya juga, kita harus selalu bisa mengevaluasi dan memperbarui target yang kita bikin setiap saat, tanpa harus menuggu tahun baru tiba seperti kebiasaan lama kita.
Dengan seringnya kita mengoreksi diri terhadap apa yang kita impikan, sudah pasti kita akan memilki nilai lebih disbanding mereka yang hanya setahun sekali memasang target dan setahun sekali juga mengiorksinya. ( dimuat di Suara Merdeka )

 
2 Comments

Posted by on December 16, 2009 in Jurnalistik

 

Tags: ,

Ngobrol sama Zombie, Mau?

Sudah 1 jam lewat Ella cerita ke Mia tentag Tiwi teman baru di kelasnya. Di tengah “jalan” tiba-tiba Mia nyela:

“Kakak Tiwi yang kata kamu mirip Bambang Pamungkas tu siapa namanya yak?”

“Aduh Mia, kakak Tiwi kembarannya BP tu namanya Mas Adit,..Adit,.Adit.. kan dah berkali-kali tak jelasin, masa lupa mulu?“
“O iya namanya Adit, sorry!”
“Mia,.aku dari tadi ngobrol ma kamu koq nggak nyambung-nyambung sih? Hayo dari tadi mesti kamu gak dengerin aku ngomong! Pasti pikiranmu kemana-mana iya kan? Iiih jahat banget sih kamu!”

“Enggak kok La, aku denger semua ceritamu dari awal sampe akhir. Suer berani dikutuk jadi langsing kalo aku mpe boong.”
“Kalo kamu denger semua ceritaku, sekarang tak tanya,
Kemeren Tiwi kerumahku  mo pinjem apaan coba?”
“Buku fisika kan?”
“Bukaan!!
Dia ke sini mo pinjem komik “Kambing Jantan”!
Iih tu kan bener, kamu tu dari tadi ngalamun aja pas aku cerita,
Nyebelin banget sih kamu!”

Hayo..hayo..hayo..ngaku! kalian pada pernah ngalami kasus kayak Ella dan Mia pas lagi ngobrol bareng temen kan? Walau lawan bicara kita jarang nyadar kalo kita nggak fokus ndengerin, tapi kadang pikiran kita emang sering tamasya sendiri pada saat yang nggak tepat. Misalnya pas ada orang curhat ke kita, ato ketika kita sedang mendengar guru ngajar ( ya iyalah masa guru nguli? ). Kondisi kayak gini mirip zombie, alais mayat hidup kan?

Ada dua faktor yang bikin suatu komunikasi itu nggak berjalan dengan baik. Yaitu faktor intern dan Ekstern. penyebab intern yang datang dari diri sendiri timbul ketika seseorang nggak siap jadi pendengar. Orang mengalami kondisi kayak gini biasanya disebabkan oleh banyak pikiran, bad mood dan gangguan kesehatan.

Zaid pernah ngalami kejadian kayak gini di mini market tempat dia kerja. Awalnya dia cuma iseng ngalamar kerjaan di situ, hanya buat ngisi waktu kalo-kalo dia nggak jadi dapet beasiswa di perguruan tinggi favoritnya. Dari lamaran iseng itu, gak nyangka gayung bersambut. Dia beneran keterima kerjaan di situ sebagai kasir mini market walau sepenuh hati dia gak begitu siap.

Gara-gara beasiswa yang dia buru nggak jadi dia dapet, di minggu-minggu awal dia mulai kerja, banyak sekali kesalahan yang dia bikin karena gak konsen kerja. Kejadian suatu ketika ada ibu-ibu beli susu formula dengan harga 30 ribuan. Pas ibu itu kasih uang 50 ribu, Zaid malah kasih kembalian selembar uang 100 ribu. Berabe deh urusannya.
Tapi itu dulu, Zaid paham apa yang jadi masalahnya, yaitu ketika fisiknya kerja, pikirannya kadang gak ikutan kerja. Dia masih aja kepikiran beasiswa yang melayang itu.
Ketika dia mampu menyingkirkan dan membunuh pikiran yang mengganggu, kerjaannya jadi lancar-lancar aja. Dia bisa mengkomunikasikan sirkulasi keuangan dengan para konsumen.

Kita sebagai orang yang butuh ngobrol lawan seorang teman kudu bijak dan paham kapan saat tepat untuk bercengkrama. Kalo temen kita gi kurang enak badan ato banyak pikiran, jangan dipaksa buat jadi temen curhat kita.

Faktor kedua yang bikin komunikasi nggak berjalan dengan baik ada dari sebab ekstern, yaitu si ketika kita dah siap dengar, orang yang bicara nggak pandai menyampaikan perihal yang dia bicarakan dengan baik.

Yang sering kejadian ada di sekolah-sekolah formal. Murid rajin yang siap belajarpun, jadi nggak nyambung gara-gara yang ngajar nggak pandai ngajar.
Kalaupun si guru emang mumpuni terhadap mata pelajaran yang dia pegang, belum tentu dia bisa mentransfer ilmu dengan sempurna ke anak didiknya.
Dan  nyatanya emang banyak guru yang gak pandai berkomunikasi secara verbal bahkan malah grogi sama murid sendiri. Tapi kok ya mereka nekat cari gaji sebagai guru? Inilah Indonesia.

Kalau Bisa Dipermudah, jangan dipersulit

Banyak istilah-istilah yang sebenarnya gak dibutuhkan oleh lawan bicara kita. Sani yang kerja di loket pembayaran listrik online, pernah dikomplain sama nenek-nenek gara-gara komputer yang dia pakai nggak bisa nyetak rekening si nenek. Masalahnya ada pada gangguan data online yang nggak bisa masuk komputer karena sinyalnya putus-putus.

Untuk kasus seperti ini jelas bukan Sani yang jadi penyebab rekening gagal cetak, tentu karena koneksi internet yang nggak lancar, kemudian bikin data rekening nenek nggak muncul di komputernya.
Si nenek mana mudeng dengan problem internet, yang dia paham, kenapa Sani gak nyetak rekeningnya. Sani dah sabar kasih penjelasan tapi sayang, dia ngutarakan dengan penempatan yang salah. Kepada si nenek dia bilang gini:

“Nek, pembayaran rekening listrik ini kan online, jadi semua data nggak bisa keluar kalo koneksi internetnya trouble. Modem yang kita pakai di komputer emang kualitasnya bagus, tapi dasar providernya aja yang bandwicnya payah”.

Mana urus, yang jelas si nenek nyengka Sani kerja nggak bener dan ngecewain pelanggan.

Istilah-istilah bahasa planet kayak gitu yang nggak dibutuhin orang yang nggak ngerti, nggak usah dikeluarin kalo emang nyusahin kita untuk klarifikasi.

Hari ini Sani nggak lagi dikomplain setelah dia bisa kasih penjeasn dengan amat simpel. Ketika problem seperti tadi terulang.
Dia cuma kasih penjelasn singkat seperti ini:

“Maaf pak, rekening Bapak sedang gak bisa dicetak karena datanya nggak bisa masuk ke komputer. Soalnya kantor kami pake sistem internet yang ngandalkan sinyal. Ya mirip kayak HP lah, kalo sinyalnya jelek, sms gak terkirim kan?. Sama kayak data di komputer ini. Silahkan tunggu 10 menti lagi, ntar kalo sinyalnya bagus, data Bapak akan masuk komputer dan bisa dicetak”.
Si babak mudeng-mudeng aja.

Kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan orang dalam dalam berkomunikasi adalah memotong pembicaran lawan bicaranya. Siapapun nggak akan merasa nyaman dan dihargai bila pembicaraannya dipotong tiba-tiba.

Kita akan disegani bila kita bisa menjadi pendengar yang baik, apalagi dengan memainkan ekspresi wajah dengan penempatan yang benar. Misalnya memeasang mimik kaget, sedih, antusias ketika lawan bicara kita sedang membawa suasana kedalam keadaan tersebut.

Menjadi pendengar yang baik tak hanya sebatas dalam komunikasi verbal saja. Kita juga dituntut peka mendengar dengan bahasa hati. Contohnya mendengar keluhan saudara kita yang kena musibah. Anggota DPR kitalah yang semestinya paling wajib memeiliki kemampuan mendengar jenis ini.

Sebaliknya, ketika kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain, kita juga harus bisa menyampaikan dengan benar, jujur, apa adanya dan dengan istilah paling mudah dipahami pastinya.
(dimuat di Suara Merdeka )

**Sourch pict: Nadya.web.id

 
Leave a comment

Posted by on December 5, 2009 in Jurnalistik

 

Tags: , , , ,

Blame, Excuse, Justify..

B E J kebanyakan orang mengartikan sebagai singkatan dari Bursa Efek Jakarta, pusat jual beli saham dan Forex Trading. Tapi dari sudut psikologis B E J adalah singkatan dari Blame, Excuse, Justify yaitu kumpulan karakter buruk pada diri sesorang yang bisa  merugikan diri sendiri, orang tua, sodara, bahkan anak keturunan. Lho?.. Ini gak mbual, coba deh kita bahas satu-satu.

Blame artinya kebiasaan buruk yang selalu menyalahkan lingkungan, orang di sekitar, negara bahkan presidennya sendiri.
Excuse artinya  selalu kebanyakan alasan.
Justify artinya menghakimi atau membenarkan.

Ketiga karakter itu berpotensi besar ngerem kusuksesan kita untuk mencapai target yang kita tempuh dengan menyandarkan factor kegagalan diluar diri kita. Contohnya seperti ini, misal aja ada dua anak kuliahan yang dua-duanya masih ngekos, merka sama-sama pengen cari duit tambahan dari usaha sampingan. Dan ternyata anak kuliahan 1 usahanya berkembang dengan lancar dan akhirnya mampu bayar kos sendiri. Sedang anak kuliahan 2 belum mencapai keberhasilan seperti sahabtnya itu. Maka anak kuliahan 2 ini merasa ok-ok aja karena karakter BEJ dah mendominasi pikirannya.

Blame, dia menyalahkan modalnya yang kecil, produknya jelek, jadwal kuliahnya yang padat, bahkan ortu dan engkongnya pun disalahkan, karena gak mewariskan bakat berwirausaha dan merasa terlahir dari keturunan pemalas.
Excuse, dia kebanyakan alasan, “ Ah aku masih muda koq, aku belum pengalaman, aku masih belum banyak belajar.”
Justify, menghakimi atau membenarkan, “ Terang aja dia lebih sukses dari aku, lha wong modalnya gede, kan usahanya juga gede.” Atau kalau temannya yang sukses itu ternyata miskin dia juga memantaskan juga. “ Terang aja dia lebih sukes dari aku, lha wong dia anak orang miskin, tentu dia biasa prihatin dan semangat kerjanya tinggi, aku kan anak orang pas-pasan, jadi semangatku juga pas-pasan. Pantes aja kalo aku belum sukses.”
Gubrak deh,…

Pren,..B E J adalah kebiasaan gak terampuni yang efektif banget menghalangi kita dari kesuksesan. Parahnya, jarang orang yang nydar kalo dirinya dah ngidap penyakit     B E J yang akut banget. Bisa jadi termasuk kalian. Coba deteksi sekarang juga!…

Udah?..Kalo belum, stop dulu jangan nerusin baca artikel ini sebelum mendeteksi penyakit ini. (gak butuh jasa dokter lagi…)
Udah kan?…gimana hasilnya?…

Mungkin ada yang ngrasa, “wah ternyata aq ngidap penyakit B E J juga ne..” jangan panik dulu. Penyakit jiwa macem gini lumrah dimiliki setiap orang. Dan emang apa yang dikeluhkan oleh pengidap B E J biasanya benar adanya. Dan selalu bertumpu pada fakta. Tapi mo sebenar-benar alasan yang ada, semua itu tidak ada manfaatnya bagi kemajuan kita!.Satu-satunya manfaat dari B E J  adalah efektif menghentikan kita untuk bertindak dan berubah jadi lebih baik dari sebelumnya. Itu dia.

Temen kita ada yang pernah begitu. Namanya Tiwi, dia anak Magelang yang kuliah di UIN Bandung. Cita-citanya pengen bisa membiayai hidup sendiri di Bandung tanpa perlu minta duit sama ortu. Secara dia dah punya penghasilan tambahan lewat jasa ngajar privat bahasa Inggris. Tapi itu semua belum cukup untuk biaya hidup di Bandung yang mahal.
“Aku belum mampu ngidupin diri sendiri kalo belum lulus, uang hasilku belum cukup buat bayar kosan sendiri, sama makan, baru cukup buat ngerjain tugas dan bayar utang”
Setelah ditanya, “Jadi karena kamu belum lulus kuliah, kamu belum bisa hidup sendiri tanpa suplai uang dari ortu?”
“gak….aku tetep terus berjuang”.
Lama-lama Tiwi nyadar, gak boleh menggantungkan faktor kesuksesan dari luar dirinya. Dia tau apa yang harus dirubah. Bukan harga makan di Bandung, tapi usaha merubah dirinya. So, dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, dia mulai merubah kebaiasaannya berlama-lama ngongkorng di fesbuk dan belajar menjual jasa Review bahasa Inggris kepada pemasar dengan gitu dia bisa cari uang untuk mandiri. Aku harus memperjuangkan mimpi, tapi gak nerusin ke action.
Hampir sama seperti Tiwi, Novi yang pengen nggelar acara baksos di sekolah, berharap banget dapat dana tambahan sponsor. Tapi karena proposal gak terkirim ke sponsor, dana tambahan pun gak datang. Tapi bukan alasan kalo gara-gara sponsor, acara baksos gagal diadakan. So, dia kekeuh banget berjuang, acara itu tetep kudu jalan. Novi gak pengen menggantungkan kesuksesan semata-mata karena sponsor doang. Dan acranya pun sukses.
Kita baru belajar dari Tiwi dan Novi, maka kita kudu pahami kalo gak etis menyalahkan orang lain terhadap kesuksesan yang akan kita raih. Sebenarnya kita punya kemampuan hebat, sayang, sebelum bener-bener berkompetisi, kita dah dengan sukarela “bunuh diri” dengan tidak mempercayai diri sendiri dan merasa pihak luar adalah penentu kemenangan kita. Pliiss,..jangan gitu dunk…
Sikap kek gini gak bias dibiarin dan secepetnya distop. Kalo nggak kita bakal memaklumi kondisi kita yang gini-gini aja karena kita memafkan diri kita yang gak pernah take action.

( Lutfi Syarifudin/ dimuat di Suara merdeka 5 Juli 2009 )

 
3 Comments

Posted by on August 3, 2009 in Jurnalistik

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Ketika Deadline

***** = kata yang dirahasiakan


( Nama_Samaran ): BUZZ!!!
( Nama_Samaran ): ge apha mz..
( Nama_Samaran ): eh lupa
( Nama_Samaran ): ass…..

lutfi syarifudin: sory dek abis mandy
lutfi syarifudin: BUZZ!!!

( Nama_Samaran ): iyuuuuuuuuuu”
( Nama_Samaran ): gx pu2

lutfi syarifudin: kamu pernah korupsi g?
lutfi syarifudin: tolong jawab
lutfi syarifudin: aq gi nulis artikel

( Nama_Samaran ): koropsi???

lutfi syarifudin: kurang bahan

( Nama_Samaran ): mkste????

lutfi syarifudin: pernah g?
lutfi syarifudin: kecil2an

( Nama_Samaran ): y gxlah
( Nama_Samaran ): ehhh
( Nama_Samaran ): dlu prnah denk

lutfi syarifudin: yakin?..

( Nama_Samaran ): sma
( Nama_Samaran ): SMA

lutfi syarifudin: paan

( Nama_Samaran ): keropsi uang buku

lutfi syarifudin: sbrapa?

( Nama_Samaran ): naikin harga

lutfi syarifudin: skrng bangga ato tobat?

( Nama_Samaran ): nyeseeeeeeeeeeeeeeeel

lutfi syarifudin: nek tak taroh artikel mo pake nama samaran g?

( Nama_Samaran ): npa se mz???
( Nama_Samaran ): iyalah

lutfi syarifudin: aq kan nulis artikel
lutfi syarifudin: pake nama apa?

( Nama_Samaran ): gila ajha pke nmnaq
( Nama_Samaran ): ojo namaku

lutfi syarifudin: nama belakangmu?

( Nama_Samaran ): gx mw

lutfi syarifudin: opo?…

( Nama_Samaran ): emmmmmmmmmmmmmm

lutfi syarifudin: buruaaan!!!!
lutfi syarifudin: ENDANG!!!
lutfi syarifudin: JUBAEDAH!!!

( Nama_Samaran ): :( :(:(:(

lutfi syarifudin: cepet!!!

( Nama_Samaran ): meni ajha
( Nama_Samaran ): menik

lutfi syarifudin: aq kirim sekarang sblm luhur
lutfi syarifudin: menik
lutfi syarifudin: ok
lutfi syarifudin: sma ***** kan?
lutfi syarifudin: tengs

( Nama_Samaran ): gaaaaaaaaaaaaxxxxxxxxxxxxxxxx

lutfi syarifudin: ntar gw traktir lu…
lutfi syarifudin: lo koq g?

( Nama_Samaran ): jngn dunk,,,

lutfi syarifudin: tu sma swasta ya?

( Nama_Samaran ): hu’uh…

lutfi syarifudin: yaudah
lutfi syarifudin: g tak sebut
lutfi syarifudin: oiye, tu skulmu td paan? sma/stm/smk?

( Nama_Samaran ): sekolah *** ***

lutfi syarifudin: ok

( Nama_Samaran ): bwad suara mrdka ya mz

lutfi syarifudin: tak tulis sekolah swasta di kota ********** aja.

lutfi syarifudin: heeh

lutfi syarifudin: dah dulu,..aq tak rampungin

( Nama_Samaran ): yeeeeeeeeeeeeeeeee
( Nama_Samaran ): pngn crtq2
( Nama_Samaran ): mlh mu udahan
( Nama_Samaran ): ea uda deehhh

lutfi syarifudin: knp?

( Nama_Samaran ): gx pa2

lutfi syarifudin: adek da perlu ma abang?…

( Nama_Samaran ): gx jdi

lutfi syarifudin: gmn ?

( Nama_Samaran ): gx kug…
( Nama_Samaran ): dslesin ajha dlu..

lutfi syarifudin: beneran?

( Nama_Samaran ): ea,,,

lutfi syarifudin: ok ntar klo dah kia perang lg

( Nama_Samaran ): ntip slam aj bwd mz ***** ea!

lutfi syarifudin: ogah

( Nama_Samaran ): yeeeeeeeeeeeeeee
( Nama_Samaran ): plit amat se

lutfi syarifudin: bodo amat

( Nama_Samaran ): ya uda lo slsien dlu,,,
( Nama_Samaran ): daaaaaaaaaaaaaaaaaa

lutfi syarifudin: duuuuuuuuuuuuu..

Akhirnya tu wawancara singkat terkirim juga 1 jam setelahnya,
3 hari kemudian, hari Ahad tanggal 15 Maret artikel nongol di Suara Merdeka Halaman 24.

Privasi narasumber kami hargai penuh, dan gak bakalan ada yang tau. SUERR!!!!

 
8 Comments

Posted by on March 16, 2009 in Jurnalistik

 

Tags: , , , , , , , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.