RSS

Category Archives: Layar Televisi

TV One Kenapa?

tv one dilarang masuk (copas dr detik)

tv one dilarang masuk (copas dr detik)

Ketika sebuah reportese menegangkan ditayangkan secara live, entah itu politik ataupun isu teroris. Mata kita otomatis tertuju pada dua stasiun televisi yang saling berkompetisi sengit, siapa lagi kalu bukan Metro Tv dan Tv One.

Andina Dwi Fatma juga pernah menglas kompetisi keduanya dalam artikel berjudul “in English Please haha” di rubric ini juga. Dari artikel tersebut kita semakin tahu bahwa TV One memang benar-benar rival sejati Metro TV. Pada liputan ekslusif pengepungan tempat persembunyian Ibrahim ( sebelumnya diduga Noordin M Top ) di desa Beji, kecamatan Kedu, Temanggung jumat lalu, nampak sekali Metro TV dan TV One berlomba-lomba menyajikan liputan terbaik.

Dari petang hingga tengah malam tak ada tanda-tanda aksi klimaks tim Destamen Khusus (Densus) 88 akan segera dilakukan. Sambil secara live Metro TV menyorot situasi desa dusun Beji, satsiun televisi tersebut juga berinisiatif menampilkan wawancara dengan pengamat intelijen. Walaupun wawancara tersebut kurang menarik, namun Metro TV sudah selangkah lebih maju dari TV One. Namun dini hari, TV One sudah bisa mereportasekan bahwa Densus 88 sudah menerjunkan robot kiriman dari Jakarta yang akan menghandle tugas pengintaian mereka. Bahkan pagi hari TV One dengan jelas mampu memperlihatkan wujud robot yang lebih mirip tank mini tersebut.

Dengan cermat Ecep S Yasa, reporter TV One mempresentasikan spesifikasi robot yang multifungsi itu. Yakni, berukuran panjang sekitar satu meter. Dilengkapi kamera dan tangan untuk meletakkan bahan peledak ke dalam rumah tersebut. Melalui posisi paling dekat dengan polisi, Ecep membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu, seluruh penjuru Indonesia menjadi tahu kondisi bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. Kemudian Robot dotarik keluar dan meneruskan tugas selanjutnya untuk menaruh bom denagn daya sedang untuk meledakkan pintu tengah.

Terkesan sangat mendramatisir memang, namun tujuannya untuk meminimalisir jatuhnya korban dari pihak petugas. Bukankah saat itu, berbagai spekulasi tentang siapa dan apa saja yang ada di dalam rumah sebelah bukit itu belum terjawab? Misalnya, jumlah orang yang ada di dalam rumah itu. Dilengkapi dengan senjata apa saja, adakah bom di sana? Bagaimana dengan Channel “tetangga”? ternyata Metro TV juga sempat menampilkan gambar robot kebanggan Densus 88 tersebut namun kurang begitu jelas. Karena Metro TV stanby di pertigaan dusun Siwur (300M dari dusun Beji) Sedang TV One hanya 30 M dari TKP. Dengan posisi yang menang telak, TV One leluasa meliput detik demi detik sepak terjang Densus 88 karena mendapat area VIP.

Ketika pemberangkatan Muhdjahri, Aris dan Indra dari Bandara Adi Sucipto Jogja menuju Jakarta, Ecep berkali-kali live melaporkan situasi terbaru di dusun Beji kala itu sudah di samping pesawat polri menyiarkan pemberangkatan tiga orang yang tertuduh teroris itu. TV One begitu gemilang dalam menyajikan rangkaian peliputan perburuan Noordin M Top.

Banyak argumen mengatakan bahwa prestasi itu merupakan hasil dari seriusnya TV One menjalin hubungan baik dengan polisi. Terlebih Sukarni Ilyas atau akrab disapa Karni Ilyas, pemimpin redaksi TV One juga pernah menjabat sebagai Kompolnas (Komisi Kepolisian Nasional). Sayangnya kedekatan TV One dengan polisi justru dicitrakan buruk oleh sebagian masyarakat seakan TV One adalah duplikasi TVRI zaman Orba.Bahkan di Solo TVOne dilarang masuk ke rumah almarhum Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono karena dianggap sebagai TV polisi. TVOne pun membantah karena sudah bekerja dengan kode etik jurnalistik dan tidak memojokkan siapa pun. Protes bahkan tidak hanya dari keluarga tersangka, TVOne juga mendapat cibiran atau protes dari polisi karena terlalu memojokkan atau menonjolkan pihak-pihak tertentu.

Totok Suryanto General Manager News TVOne menyangkal ketidak berimbangan medianya. Dia mengaku tak hanya mendapat pencitaan buruk dari keluarga tersangka teroris, namun dari polisi sendiri pun juga sering menadpat cibiran negatif. Totok menegaskan indepensi TV One dan mengatakan; “Kami dalam tugas jurnalistik pegangannya kaidah-kaidah yang berlaku. Kami sama sekali tidak ada memojokkan siapapun. Kami selalu berprasangka positif apapun kondisinya.” Maka perjuangan independensi TV one dan kaitannya dengan kedekatan polisi pantas kita asumsikan dengan sesuatu yang buruk? Tergantng sedewasa apakah masyarakat menyikapinya. (Lutfi Syarifudin)

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2009 in Layar Televisi, Temanggung

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Tak Perlu Dibuat Sendu

Di Negara ini, yang apa-apa sudah dibuat demokratis, menuntut semua orang untuk berlaku obyektif. Tak terkecuali pada tayangan-tayangan yang hadir di layar kaca kita. Apalagi yang berbau reality show talent-search, tak ada ruang bagi juri untuk memihak, atau lebih tepatnya lagi menentukan siapa jawara terbaik.
The Master pun turut tunduk pada madzhab demokrasi tersebut. Dan di sini Dedy Corbuzier lah yang menjadi bulan-bulanan para penggemar The Master.
Posisi Dedy yang dikesankan sebagai Master yang sedang mencari calon jawara di bidang Magician seakan dibuat serba salah. Dia yang punya otoritas penuh mengkritik habis-habisan para kontestan dipaksa menyerah pada aturan main yang ujung-ujungnya bertumpu pada Polling SMS tertinggi.Inilah demokrasi, yang akhirnya Dedy dijadikan tumbalnya dan mendapat predikat juri antagonis.

Pada penayangan perdana The Master, dia sudah dengan bras-bres mengkritik penampilan Aldi Sungkar, kontestan asal Solo, yang menurutnya kurang menarik hanya karena membawakan trik sulap tradisional. Tak hanya itu, Backsound Scorring yang mengiringi permainan Aldi tak luput dari komentar Dedy yang mengesankan bahwa Aldi mengekor David Copperfield yang selalu memakai lagu-lagi Phil Collin. Yang sedikit lebih menyesakkan, sebelum berkomentar Dedy berucap, “ Saya bingng mau komentar apa, soalnya kamu bawa-bawa ibu kamu di sini”.

Memang, kala itu usai Aldi menampilkan permainan Classic Magic, Tim kreatif menghubungkan dia dengan ibunya yang sedang sakit via telpon. Dan terungklaplah kesan Aldi bahwa dia merupakan sosok anak yang berbakti kepada orang tua karena pernah nekat menjual peralatan sulapnya untuk membayar perawatan ibunya. Tiba-tiba saja The Master yang yang diformat dengan banyak elemen aroma misteri, berubah jadi acara sendu macam AFI, Idola cilik dan Talent-Search sejenis.

Saat ini, barangkali Dedy sudah mulai kebal dengan riuh sinis penonton yang selalu bersorak ‘ wuuuu’ sesaat sebelum dia memberi komentar kepada kontestan. Entah positif atau negatif komentar yang akan diberikan oleh Dedy, penonton sudah dengan jelas membaca bahasa tubuh dan mimik wajah Dedy yang sudah “bicara” itu. Dan tentu saja, diam sejenaknya Dedy dan diteruskan dengan mengernyitkan dahi menandakan Dedy sudah tidak menyukai permainan sang kontestan.

Mungkin karena kebal akan ‘wuuuu’ dari penonton inilah yang juga membuat Dedy tak menanggalkan idealisme ala dia saat menjadi juri di The Master Junior. Dan kali ini Asror yang menjadi pesakitannya. Betapa tak kuasa Asror menahan air mata yang berkaca-kaca ketika Dedy dengan komentar pedasnya menganggap kalau permainan dia jelek, bukan mengatakan “ kurang bagus” , atau “perlu dismpurnakan”, untuk disesuaikan dengan kondisi mental anak-anak yang masih sensitif. Namun benar-benar dia berkali-kali mengatakan kalau permainan Asror jelek.

Rina Gunawan dan Rachel Amanda yang juga duduk menjadi Juri tamu spontan tak tahan untuk tidak menyanggah kritikan Dedy saat itu. Juga Adi Nugroho yang menjadi host, dia kala itu benar-benar kewalahan untuk memulihkan emosi Asror dan para penonton untuk tidak terbawa suasana panas atas perlakuan “Keji” Sang Master.

Di Indonesia, yang mungkin masyarakat kita masih gemar dengan tayangan Reality Show, apalagi setelah dipoles sedikit menye-menye akhirnnya memberi ruang bagi acara The Master untuk melanjutkan ke The Master Junior. Sedang di Amerika sana, stasiun televise NBC juga memiliki live reality competition show serupa yang berjudul “Phenomenon”. Jika The Master mempunyai Jargon “Mencari Bintang Tanpa Mantra”,  Phenomenon menggunakan “The Next Great Mentalist” untuk acaranya.
Acara itu dipandu dua Magician terkenal yaitu Mentalist Uri Geller dan Illusionis Criss Angel. di acara Phenomenon , 10 Magician terpilih diadu di atas panggung setiap minggunya dan pemenangnya mendapatkan 250 ribu Dollar. Sayangnya Phenomenon hanya berumur sampai season 1. Ini dikarenakan acara semacam itu bukanlah acara yang baru di Amerika, sebelumnya sudah ada The Successor yang tayang di awal 2007, yang menadi pelopor pencarian Magician di ajang Reality Show.

Sebagai acara yang kerap memunculkan kejanggalan-kejanggalan yang menghibur, The Master pernah di klaim oleh Dedy Corbuzier sebagai acara dengan rating tertinggi di Indonesia, namun dia tidak menyebutkan secara spesifik prosentase angkanya. Memang demikan adanya. Dari aspek psikologis, manusia cenderung memiliki ketertarikan dan rasa penasaran terhadap sesuatu yang bersifat misteri.
Bahkan kata-kata “Misteri” atau “Rahasia” kerap digunakan oleh Suwandi Chow, pakar pembuatan surat penjualan pada website komersil untuk dijadikan headline pada situs affiliasinya. Karena memang terbukti menarik perhatian orang.

Selain dari kemasan misteri yang sudah merangsang antusias pemirsa untuk mantengin The Master, acara tersebut juga dipoles secantik mungkin hingga kerap memberikan efek dramatisir. Tentu saja tujuannya untuk memancing decak kagum penonton. Seperti pengakuan tim kreatif The Master di sebuah forum online ketika dia menyanggah originalitas Dedy Corbuzuer ketika menang mengalahkan Abel Brata, pemegang rekor MURI untuk solving RUbik’s cube tercepat. Tim kreatif itu mereply kometar seperti ini:
“kalo ga ngerti sulap diem aja jangan komentar…show sulap itu susah pak!!!
so sulap itu = film kalo lu nonton di bioskop….dalam film tentu ada sutradara,penulis cerita,cerita itu sendiri,…capek lah gw jelasin ke orang yang gw ngerti seni sulap…”

Nah lho..Tim kreatifitas mengakui sendiri akan adanya “script” terencana dalam tayangan The Master. Maka, melihat alangkah sudah punya niai variatifnya sendiri, tak perlulah keunikan tersebut dilunturkan dengan luluhnya The Master ke format sendu dan tangis-tangisan hanya demi mendongkrak simpati dan tentu saja untuk menadah kiriman polling SMS.
( Lutfi Syarifudin)

 
Leave a comment

Posted by on August 3, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , , , , , , , , , , ,

Alur Sinetron Yang Mlompong

Sejak Indosiar mempelopori diri sebagai kanal penayang sinetron terpanjang yaitu Tersanjung, beberapa stasiun televisi lain pun mengekor. Para pemilik Rumah Produksi sudah mulai paham, betapa dunia hiburan merupakan sebuah industri dengan ceruk pasar menggiurkan. Maka cerita yang ada tak lagi menawan dinikmati. Para sineas lebih mementingkan jalan cerita yang bertumpu pada rating.

Hari ini, di kanal manapun kita menengok tayangan sinetron, kita dapati alur yang tak jelas ke mana muara endingnya. RCTI pernah memiliki Intan dan Candy sebagai sinetron yang banyak diklaim terlalau meterialis. Dua sinetron tersebut tak cukup nyali mempertegas ending yang semestinya sudah harus berakhir. Mengapa harus distop kalau masih layak jual? Akhirnya unsur Sexual Tense digenjot se-njlimet mungkin. Sesabar apapun kita menanti akhir cerita, selalu saja akan ada sub plot baru di sinetron itu.

Dari www.bintang-indonesia.com diungkap bahwa sinetron Intan dahulunya memang jelas “Penyembah” rating. Demikian kutipannya: “Sama seperti pemain dan sutradara, Indra tidak tahu kapan sinetron ini berakhir. Tapi Indra berjanji sebelum ditinggal penggemarnya, sebelum rating-nya anjlok, Intan harus tutup layar. ”Sejauh ini Intan akan berakhir pada episode 200. Tapi saya tidak tahu kalau kontraknya terus diperpanjang. Tapi saya janji Intan tidak akan berakhir seperti Tersanjung,” ucap Indra.” Indra yang dimaksud dalam kutipan ini adalah Indrayanto Kurniawan, Desain Produksi sinetron Intan.

Menengok ke era tahun 90-an, hampir semua sinetron tayang satu episode per minggunya, kecuali telenovela. Karena saat itu kru sinetron masih menjunjung tinggi disiplin penceritaan yang ideal. Apalagi saat itu banyak sinetron yang sebagian merupakan adaptasi dari novel sastra seperti karya-karya Mira.W. Sehingga skenario yang dieksekusi merupakan buah dari penceritaan yang terstruktur kokoh. Bila memang tiba waktunya berakhir, ya berakhirlah..

Sekarang hampir semua sinetron stripping tayang tiap hari. Demi memenuhi pesanan, kadang para pemain dipaksa berakting monolog di luar lokasi syuting. Kemudian secara teknis kombinasi gambar dipertemukan, seakan mereka berdialog dalam satu frame. Cara ini yang kerap dilakukan MD Entertainmen pada banyak sinetronnya.

Hasrat mengejar royalty belaka juga nampak dari sinetron-sinetron keluaran Sinemart.      Serana Luna, Script Writer andalan Rumah Produksi milik Leo Sutato ini dinilai terlalu produktif. Siapa sebenarnya Serena Luna? Ternya dia bukanlah nama orang. Ada yang mengatakan Serena Luna merupakan nama pena dari organisasi sekumpulan penulis skenario spesialis jiplakan drama Korea. Beberapa jiplakannya antara lain: Love Storm (Baby Doll), My Name is Kim Sam Soon( Darling), My Little Bride( Pengantin Remaja), Be Strong Geum Soon (Intan), Yellow Handkerchief (Wulan).

Judul Untuk Mengulur Ending

Dari deretan sinetron yang tayang saat ini, banyak kita temui sintreon-sinetron yang menggunakan nama tokoh sebagai judul. Ambil contoh Dewi, Sekar, Lia, Rafika, Yasmin dan masih banyak lagi. Di SCTV juga tak beda, hanya saja depannya diimbuhi kata “Cinta”, seprti Cinta Fitri, Cinta Bunga, Cinta Indah. Judul-judul tak jelas seperti itu menjadi sangat elastis untuk menarik-ulur ending. Beda konsekuensinya dengan judul sinetron yang sejak awal sudah memiliki alur yang terstruktur, bahakan ending, seperti Saat Memberi, Saat Menerima, Istri Untuk Suamiku, Jangan Kau Ambil Anakku dan Air Mata Ibu.

Kita sudah cukup jengah, disuguhi tontonan yang jauh dari kualitas itu. Tapi para sineas tak berhenti berkarya karena rating masih menjanjikan. Apalagi untuk jam-jam Prime Time. Akhirnya kita tak punya pilihan lain untuk selalu bertemu sinetron. Benar-benar lingkaran setan bukan?

Lutfi Syarifudin

Gambar di ambil dari : helloskyblu.blogspot.com

 
3 Comments

Posted by on May 31, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Idola Cilik For Sale!

Idola Cilik For Sale! One Keyword, one Market itulah hukumnya!

Di postinganku lalu, yang berjudul Idola Cilik, Karena Pemirsa Juga Juri, banyak fakta tentang ekplioitasi kemiskinan melalui acara-acara search talent ala layar gelas Indonesia.

Sad story yang dibuat hyperbolis, selalu membunuh tema yang mulanya sebagai ajang pencarian bakat, menjadi ajang penggalangan simpati yang tidak pada tempatnya.

RCTI yang sudah lama menggandeng Production House ( PH ) Triwarsana milik Helmi Yahya,  sebagai PH yang berfokus di acara sendu masih saja kurang puas. Tak luput Variety Show pun berubah format yang ikut-ikut sendu.

Bukan masalah skeptis atau tidak dengan idola cilik. Namun jelas terasa mengganjal, bila pertarungan yang tak jelas kriteria sang jawarannya, dioptimalkan layaknya pertarungain fair pencarian bintang penuh bakat.

Di postingan ini sedikit aku tulis perihal tren searching idola cilik yang tinggi. Satu keyword yang Niche market. Bahkan keliahatan di statistik blog ini yang rata-rata dalam sehari mencapai 50-an pengunjung dan sebagian berasal dari Google dengan kata kunci Idola cilik.

One Keyword, One Market itu hukum yang aku pelajari ketika berguru dengan Ibu Ahira di Asian Brain Internet Marketing Center ( IMC ). Tidak seperti bisnis offline yang kebanyakan sangat terbatas dalam produk penjualannya. Di Internet Barrack Obama, Sumbing Mount, Pemilu 2004 dan Idola cilik bisa menjadi barang dagangan.

Karena tak semua bisnis internet merupakan bisnis Pay Per Sale ( orang dapat uang setelah berhasil menjual barang ). Di internet masih memiliki sistem Pay Per Lead, Pay Per Click, Pay Per Instal, Pay Per Post dll.

Na, karena kayanya sistem internet ini, keyword idola cilik pun menjadi pasar yang menghasilkan uang.

Kasus yang lumayan parah menimpa Ashila Zahrantiara, kontestan idola cilik 1 asal banten. Dia tinggal kelas di pertengahan babak. Namun hingga hari ini ( 23-03-09), penggemar dan komunitasnya semakin ramai.

Dari situ otomatis menjadi fakta, bahwa Shila idola cilik adalah ceruk pasar yang bisa digarap. Banyak situs pertemanan yang mengatasnamakan Ashila Zahrantiara, komunitas fansnya, hingga video aksi panggungnya banyak yang upload youtube.

Mengapa bisa?

Berdasarkan prinsip Googlepreneur, faktor kali terhadap hits sebuah situs, memberi potensi kelayakan sang situs untuk mengaliri trafik untuk link periklanan atau penjualan. Dan anak-anak finalis Idola cilik menjadi marketernya!

Ada yang tahu, mengapa seorang pemain adsense mampu meghasilkan ribuan dollar dalam 1 bulan? Tentu selain mereka bisa research building dengan teliti, ide niche marketing yang diambil pun tepat sasaran.

Marketer online memiliki prinsip Niche Market yaitu, selalulah mengambil kompetitor searching yang paling rendah dan pencarian tertinggi. Idola cilik memenuhi syarat ini.

Meskipun aku tidak sedang berjualan (di blog ini ), terbukti hits idola cilik menjadi daya tarik yang menggiurkan.

Tanpa peduli keterkaitan market sang merchant dengan keyword idola cilik, mereka tetap bisa mengeruk dolar di situ. Semakin banyak orang mempublikasikan keyword Idola cilik di blog, semakin ramai blog dikunjungi dan memenuhi kebutuhan para fansnya, sehingga akan semakin tinggi pula trafik  situs tersebut.  Terlebih bila mereka mampu meng upload di Youtube.

Ketika situs memiliki pengunjung yang tinggi dari banyak fans idola cilik, tinggal belokkan saja trafiknya ke link penjualan atau adsense. termasuk mereka yang bisa mengupload video idola cilik di Youtube, memiliki friendster palsunya, blog palsunya dll.

Para marketer yang mengandalkan keyword idola cilik sebagai pasarnya, aku akui cukup cerdas dalam hal research market. Namun kadang ada yang tidak fair ketika mereka beralih menjadi spamer link. Yaitu mengubah kecenderungan pengunjung terhadap idola cilik, ke situs penjualan yang sama sekali tak ada kaitannya dengan idola cilik.

Idealnya, seperti banyak situs adsense, pengunjung yang mengunjungi situs hobi, misal Fishing, mereka tentu akan diarahkan ke link sponsor pemancingan atau penjual alat pancing.

Sedangkan idola cilik? malah jadi ajang spaming link, tiba-tiba saja firendster Oik yang sudah memiliki ribuan teman, berubah menjadi friensdter dengan banyak link bisnis online yang sama sekali tak dibutuhkan oleh fans Oik.

So, memang cerdas dalam mencari keyword oleh para online marketer merupakan sebuah keharusan, namun bila etika dalam membelokkan trafik  pengunjung tidak diperhatikan, maka cara tersebut sangat tak profesiaonal. Dan terlihat sekali bahwa si marketer sengaja memanfaatkan idola cilik sebagai kendaraan yang entah nanti si pengunjung dirusak fokusnya dan terlempar ke link yang keluar jalur.

kalau saya memposting artikel ini, kumdian naroh foto Shila, trus ngelink ke barang dagangan, kira-kira sopan gak? misal ngelink seperti foto di bawah ini, yang ngelink ke webnya Peter:

tentu saya pemilik blog punya otoritas ini, sama seperti marketer lain. tinggal relevansinya saja yang harus dikaitkan bukan?

Ok, semoga masukan untuk para merketer online ini bisa bermanfaat bagi semua yang ingin mengambil keyword situs penjualan mereka.

Salam Sukses

Lutfi syarifudin

**Source Picture:

-http://nadya.web.id

-Oik’s FaceBook

Artikel Terkait:

Idola Cilik Karena Pemirsa Juga Juri

Agni Idola Clik 2

Kambing Hitam Lagu Anak Idola Cilik

 
334 Comments

Posted by on March 24, 2009 in Layar Televisi, Marketing & Bisnis

 

Tags: , , , , , ,

Idola Cilik, Karena Pemirsa Juga Juri


Cukupkah talenta seseorang mampu menjadi syarat untuk menjadikannya seorang bintang? Kalau pertanyaan ini ditujukan untuk acara Variety Show yang belakangan tengah marak, tentu saja tidak. Masih ada satu syarat lagi yang mujarab mempengaruhi nilai jual calon bintang itu, apa lagi kalau bukan sad story, alias kisah sedih.

Apapun tujuan Variety Show yang menjadi programa di salah satu kanal televisi kita, dengan sendirinya akan menanggalkan idelisme asalnya. Yaitu ketika menyadari fakta bahwa kisah suram yang berpotensi mengundang simpati, mampu mendongkrak polling sang kontestan. Very AFI menjadi bukti nyata. AFI yang dianggap sebagai pelopor tontonan ajang pencarian bakat di Indonesia ini, pada babak awal sudah kebobolan dengan sistem penjurian yang tidak fair ini. Acara yang sejatinya sebagai wadah pemilihan entertrainer berkualitas, menjadi lumpuh karena lahirnya sang juara tak lagi diukur dengan kualitasnya, melainkan melalui seberapa banyak fansnya. Itulah alasan mengapa Bertha sang guru Vokal AFI tak mau melanjutkan kontrak untuk membimbing para kontesatanAFI pada periode kedua.

Kalau juara AFI ditentukan hanya dengan polling saja, kenapa harus ada guru vokal di situ? dia pun merasa tak dihargai jerih payahnya dalam membangun kualitas vokal anak didiknya. Perkembangan olah vokal para kontestan ternyata tidak berbanding lurus dengan nilai peringkat di perebutan tahta juara untuk AFI.

Setelah Very AFI, yang menjadi bintang karena menjual sad storynya sebagai anak tukang becak, maka setelahnya ada Fiersha, sang gadis tuna netra yang masuk tiga besar di Mamamia, kemudian ada Aris, sang pengamen kerata di Indonesia idol dan terakhir kita memilki Kiki Idola Cilik yang punya papa cacat karena kulitnya pernah terbakar.

Kita selalu saja diminta mewajari sikap janggal Okky Luqman yang dalam satu acara audisi Menuju Pentas Idola Cilik 2, mencoba merubah format Varitey Show, menjadi ajang penggalian simpati semacam Jalinan Kasih di RCTI.

Di Idola Cilik, untuk meraup SMS, selain sang peserta audisi diminta bernyanyi, Okky tak lupa meminta para peserta unjuk bakat lain di sela-sela pemberian komentar oleh para juri.

Kepada Nadya, Okky meminta dia memainkan biola,

sedang untuk Cakka, Okky memintanya unjuk bermain gitar. Namun ketika tiba pada giliran  Ellen, yang sebenarnya dia juga mahir bermain gitar, Oky malah tak memberinya gitar, dia malah minta Ellen untuk bercerita tentang keluarganya. Dengan sedikit meunduk Okky berkata pada Ellen, “Ada yang bisa kamu ceritakan kepada seluruh pemirsa yang sedang menyaksikan acara ini sayang?”

Tak samapi 30 detik untuk menuntaskan kisahnya hidupnya, air mata Ellen sudah tumpah tak bisa dibedung. Dia bercerita tentang orang tuanya yang telah berpisah, dan saat ini dia tinggal di panti asuhan, karena sudah  4 tahun tak berjumpa dengan mamanya.

Pada episode Menuju Idola Cilik 2 kamis 27 November kemarin, Okky kembali meminta para kontestan ujuk kebolehan. Tentu tujuannya masih untuk menaikkan add values masing-masing dari mereka. Kepada Agni, Okky memberinya bola dan meminta Agni untuk memainkannya, dia juga meminta Zaskia bermain piano. Tapi kepada Olin, lagi-lagi Oky meminta dia bercerita tentang kisah sedihnya menjadi korban kerusuhan di Ambon.

Please Oky, sad story itu bukanlah sebuah talenta yang perlu kamu gali untuk membantunya menjadi seorang bintang. Kecuali bila kamu memang sengaja sedang mencarikan dia simpati untuk dikasihani.

Sad Story memang efektif mengetuk hati, Seefektif mengalirnya dukungan untuk Kiki ketika berkali-kali papanya disorot oleh kamera. Ketika Okky berkesempatan berdialog dengan papa Kiki, Okky menyempatkan bertanya pada Kiki, “Kamu bangga punya papa seperti papa Kiki saat ini?” Kiki mengangguk.

“Kamu tidak minder sedikitpun?”

Kiki menjawab, “Tidak”.

Tentu cara ini lebih halus untuk Okky supaya tidak mengambil kalimat kasar seperti, “Lihat itu papa Kiki, dia mengalami musibah yang membuat kulit di wajahnya hancur, maka SMSlah Kiki yang banyak, biar kalau Kiki jadi juara Idola Cilik, dan punya uang banyak, papanya bisa operasai!”

Jelas tidak akan pernah seperti itu.

Tak perlulah kita memprotes niatan acara tersebut, kalau memang niatan produser murni hanya mencari seorang idola saja, bukan insan yang berbakat dalam suatu bidang

Pernah suatu saat Billy, pemuda 20 tahun asal Bogor, mencoba peruntungannya dengan mengikuti audisi Indonesian Idol melalui kota Bandug.

Belum sampai dia bertemu Titi DJ cs, oleh co juri, dia sudah ditagih, supaya bisa menceritakan sad storynya. Billy pun gelagepan, karena selama ini dia hidup serba mudah serta jarang mengalami kesusaahn dan kesedihan, kecuali saat dia melayati neneknya yang baru saja meninggal.

Entah karena sad storynya yang teramat standar, atau faktor lain. Toh nyatanya dia tak lolos untuk ikut audisi selanjutnya di Jakarta. Padahal dahulu dia juga pernah mendaftar audisi Indonesian Idol. Bukankah kisah yang dialami Billy ini merupakan pembukatian bahwa variety show saat ini tak lagi murni mencari bakat namun hanya sekedar idola?

Dan idola bisa lahir dari mana saja bahkan kolong jembatan sekalipun, tanpa harus memilki talenta, asal bila saja dia berkesan dan pandai maraup simpati pada pemirsa.

Samapi di sini, kedudukan juri tak ubahnya hanya sebagai alibi supaya acara sejenis itu tatap terlihat berjalan dengan layak. Untuk ajang pencarian bakat, semestinya para produser kembali bercermin kepada The Apprentice Indonesia atau the scolar. Acara tersebut merupakan ajang pencarian bakat yang pemirsa sama sekali tak dilibatkan dalam menentukan siapa yang kelak menjadi juaranya. Juri yang berkopeten pun masih memiliki otoritas untuk memberi penilaian sesuai kualitas kontestannya.

Lutfi Syarifudin.

**Source Picture http://nadya.web.id

terimakasih atas kunjungannya, ini hadiah dari saya:

Artikel Terkait:

Idola Cilik For Sale

Agni Idola Cilik 2

Kambing Hitam Lagu Anak Idola Cilik

 
217 Comments

Posted by on February 19, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , ,

Agni Idola Cilik 2

Sabtu, 15, November 2008 kemaren, aq liat audisi idola cilik 2, lucu-lucu, banyak juga yang suaranya bagus, ada juga anak-anak bule yang ikut ndaftar. Dari  12.688 total peserta audisi, aq cuma ngeh sama cewek yang namanya Agni  Tri Nubuwati.

Entah ada aura apa dari dia, tiba-tiba aja aq mlongo liat Agni, aq cuma mbatin, “Gila,..Ampun,..!”

dah titik. Jauh ribuan kilo dr TV aq, Duta dan mama ira juga mlongo,…

Ada yang salah dengan Agni? kayaknya tidak, cm kita para penonton yang “mati” karena dia.

Agni datang pake celana panjang, t-shirt kuning berkerah, dan gitar. Rambutnya dikucir, cuma itu, tanpa make-up. kasual banget.

Begitu masuk ruangan audisi, dan belum sampai ngapa-ngapa, Duta yang sempat mlongo langsung ngomen, “Agni, kamu kliatan asik banget!”.

mama ira menatap kuat, sependapat sama Duta.

Agni cuma senyum, simpel, sesimpel bibirnya yang tipis, maniiiis sekali.

Dia nggak bisa bohong kalau dia tomboy, tomboy yang anggun, alami sekali dan tak ada yang dibuat-buat.

Dia tomboy yang nggak cowok banget, dalam ketomboyannya, gak ada unsur kecewekaannya yang tertinggal.

Ketika dia mulai akan menyanyi, semua kru diam, jemarinya memetik gitar dengan pelan, begitu damai.

Mama ira dan Duta terpaku.

Benar-benar dari hati dia bernyanyi, soulnya dapet bgt.

Dia amat menikmatinya,

begitupun dengan yang menyaksikan.

penuh arti dia bernyanyi, dan masih fokus pada petikan gitar kesayangannya.

kata Duta, gitar itu sekan penuh arti buat Agni.

di tengah suaranya yang berkarakter ketika bernyanyi dan memainkan gitar, mama ira dari kursi juri berujar,

” tolong lihat kamera dan senyum sayang!”

Tanpa kehilangan kendali pada kontrol performancenya, dia tanggap apa yang diminta mama ira, seketika wajahnya diangkat, meniggalkan gitar, jari kirinya masih lincah menari-nari diantara kunci tanpa pengawasan matanya.

kepada mama ira dan ke arah kamera, dia tersenyum tipis penuh makna dan daleem bgt.

jutaan pasang mata yang mungkin siang jam setengah dua itu mentengin RCTI, menjadi saksi atas pancaran pesona yang hanya tersaji tak lebih dari 3 detik itu.

saat pembagian raport hasil audisi idola cilik 2 tahap awal itu, dia barada di tengah berasama kawan-kawan sesama peserta audisi.

setelah hitungan ketiga, semua peserta membuka raport, semua diam, tak ada apa-apa di dalam raport mereka,

Agni diam, mematung beberapa detik, hidungnya mulai lembab dan berair, sedang di matanya hampir tumpah, nafasnya tersenggal,

sesenggukannya makin manjadi-jadi. Dia tak percaya, berdiri di antara kawan-kawannya yang juga sedang berusaha sekuat mungkin mengontrol emosi setelah melihat hasil.

Tangan kanan Agni dengan gemetar mengambil sesuatu yang ada di raportnya.

Sebuah bintang berwarna ungu.

Dihampirinya sang ibu, mereka berpelukan, masih di depan kamera yang mengejar dan menyorotnya. dia masih terisak sedu.

Dia meninggikan kepalan tangan ke arah kamera, dia ingin seluruh pemirsa idola cilik dari sabang sampai merauke melihat dia baru saja membuktikan kemampuannya.

kali ini begitu nampak gagah,air yang keluar dari mata tomboynya, tetap terlihat anggun bagi dia.

Terimakasih atas kunjungan Anda di Blog ini, sebagai hadiah, saya berikan GRATIS tiket seminar Financial Revolution Tung Desem Waringin, selama 3 hari senilai Rp4.933.500

**Source Picture http://nadya.web.id

Artikel Terkait:

Idola Cilik For Sale

Idola Cilik Karena Pemirsa Juga Juri

Kambing Hitam Lagu Anak Idola Cilik

 
38 Comments

Posted by on February 19, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , , , , ,

Serena Luna Belum Kapok

Aslinya aku gak peduli amat dengan sinetron,..emang dari dulu gak doyan nonton,..kecuali terpaksa pas nemenin barkah ,kalo gi  nginep di rumahku,..yang bikin malam-malamku sering ketemu sinetron ya malah ibuku,..sampe aku gak terima ,..masak acara sekeren bioskop trans tv yg nayangain film-film keren ..jadi kalah sama acara super tolol,.,.

Yg bikin aku gak terima apa yg ditonton tu bener 2 sama sekali gak nu jukin mutu perkembangan persinetronan sedikitpun,..

Karakter antagaonis yg dibuat super jahat tanpa alasan yg jelas, bwt njahatin prontagonisnya,..misalnya kenangan masa lalu yg bikin dendam sampe mendarah daging,..itupun kalo nyata nggak sampe sehiperbolis kayak yg ada di sinetron,.

lebih aneh lagi si prontagonis yg super baik sampe klewat baiknya seperti org IDIOT,..

gak terima lagi jiplakan2 yg dengan seenaknya sinemart mengkalim itu buah karya SERENA LUNA si scriptwriter di PH tsb,..

paling aku benci sampe ada antagonis yg cara ngomongnya pake mimik wajah yg dibuat2,..lirikan mata aneh,

pengen bgt aku nyewa org bwt nembak si Loe sutanto,..sanker,..widi wijaya ,.dody djanas,..dan penjajah2 kurang ajar tu,..

tapi lagi2 yg jadi masalah justru sinetron 2super ANJRRIIT,.tu bertumpu pada rating, selama msh banyak yg nonon berarti masih laku,..

aku jadi mikir,..apa mesti,,..yg kudu aku tembak kepalanya tu si barkah?,..

gara2 dia ,..yg sinetron holic,..PH-PH sableng lom juga kapok nayangin sinetron sampah,..palagi serena luna yg gak bakalan diketahui wujudnya,..lha wong serena luna tu bukan manusia,..tapi topeng yg dijadikan kedok bwt para plagiat2 drama jepang& korea utk dijiplak disina,..bia nanti kalo mo dituntut gak gampang ketauan,..

aku trus berburu info,..tebntang serana luna yg akhirnya aku dpt dr blog2 org2 yg juga alergi ma SL,

seperti yg aku dapet di bawah ini (aku lupa dr mana ja aku tulis aja dpt dr berbagai sumber/blog):
Dari berbagai sumber (termasuk dari FI), aku tau kalau Serena Luna (scriptwriter Sinemart yang njiplak k-drama/dorama/t-drama/manga) adalah novelis teenlit Alexandra Leirissa

http://www.lautanindonesia.com/topic.asp?TOPIC_ID=46721

Dari situ aku jg tahu kalau serena luna itu bukan individu tapi kelompok, dan leader-nya adalah Alexandra Leirissa (novelnya : Dua pasang Mata & 12 pendar bintang) sendiri! Padahal aku ini dulunya fans berat mbak alex… Aku kecewa berat!
Serena Luna itu ‘pen name’ dari beberapa penulis yang bekerja di Sinemart (PH penjiplak nomor satu). Nama itu dilakukan karena ;

1. Beberapa penulis yang di sana sebenarnya masih dikontrak PH lain (kalau ketahuan, sangsinya denda dan somasi).

2. Penulisnya sebenarnya sudah mapan dan ngaku-ngaku penulis ‘terhormat’ (baca ; wartawan dan editor buku), dan nggak mau dianggap ‘melacur’ nulis sinetron.

3. Mengingat 99% karya mereka jiplakan, kalau nanti ada kasus para pemilik cerita asli menuntut, susah ditelusuri karena memang secara teknis ‘Serena Luna’ tidak ada.

4. (mulai ngaco nih, tapi bisa jadi benar) Para penulisnya cowo-cowo horny, yang dapat inspirasi abis nonton luna show (show lesbian) dan serena service (sex service on the car).

5. (makin ngaco, tapi menurut gue yang paling masuk akal) Serena Luna sebenarnya penulis senior yang amat pakar, yang tulisan-tulisannya begitu melegenda dan memberi inspirasi bagi para penulis se-Indonesia………

 
6 Comments

Posted by on February 19, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , , , ,

Sinetron, Atas Nama Rating


Manfaat judul sinetron adalah sebagai pintu yang bisa menghubungkan pemirsa dengan isi ceritanya. Di era tahun 90-an judul sinetron mempu menjadi deskripsi apa yang hendak dikisahkan sinetron tersebut. Sebut saja judul sinetron seperti Istri Untuk Suamiku, Janjiku, Saat Memberi Saat Menerima, Air Mata Ibu,.dan sebagainya. Dengan membaca judulnya saja kita sudah dapat mengira-ira isis ceritanya. Karena pada era saat itu, para sineas sinetron masih memiliki keseriusan dalam menggarap karya mereka.

Apalagi bila kita semakin jauh membandingkan dengan sinetron yang lebih kuno lagi, di era tahun 80-an, di kanal TVRI, kita kerap disuguhakn  dengan sinteron-sinetron melaayu kolosal yang bila kita lihat penggarapannya, benar-benar maksimal untuk bisa dinikmati .

Keseriusan begitu bisa dirasakan dengan melihat pakaian adat yang dikenakan para pemain. Logat serta dioalognyapun begitu asli, bahkan tim sineasnya mau merombak properti dari rumah hingga jalan yang mulannya aspal menjadi jalan berupa tanah. Hal itu demi bisa mampu mendesrkripsikan gambaran tahun saat cerita tersebut berlangsung.Bayangkan betapa rumitnya membangun suasana kampung era Siti Nurbaya di tahun 80-an yang sudah modern!

Seiring berjalannya waktu, ternyata peerkambangann sinetron tidak berbanding lurus dengan kualitasnya. Idealisme sang sutradara kerap terkalahkan oleh kerakusan sang produser yang membuat sinetron menjadi sebuah industri yang mengahsilkan royalti sangat besar. Demi memenuhi pesanan tayangan di televisi, produser terlalu memaksakan ketersediaan produksi sinetron tiap episode dengan asal-asalan.

Motivasi produser yang hanya memburu uang saja, bisa diindikasikan dengan banyaknya kemunculan sinetron yang menjadikan nama tokoh utama sebagai judul sinetron tersebut. Tujuan itu tak lain hanya untuk menyelamatkan rating dari judul yang sudah membawa cerita. Bila produser benar-benar ingin membuat karya berkualitas, mestinya jagan cuma berangan saja, tapi harus stop dreaming start action.

Maksud judul yang sudah membawa cerita adalah judul-judul yang mewakili narasi ceritanya, seperti judul sinetron era 80-an. Bisa ambil contoh judul sinteron Saat Memberi Saat Menerima, yang tentu saja dari judul tersebut sudah sedikit mampu berkisah tentang kisah pemberian dan penerimaan. Dengan judul itu pula, ending pada cerita tersebut sudah pasti disiapkan.

Kita bandingakan dengan sinetron Cahaya, judul yang samasekali tidak membawa pesan cerita apa-apa itu, tentu dimaksudkan sebagai pelarian sang produser untuk menghindari ending yang harus terencana. Dengan judul “cahaya”  yang mana kita tidak tahu maksudnya apa, si produser bisa dengan seenaknya menglur-ulur ending selama rating sinetron tersebut masih tinggi, sehingga royaltinya terus mengalir.

Saat ini begitu banyak bermunculan produser yang juga terjangkit syndrom materialistis seperti yang ngetren saat ini. Mereka mengesampingkan mutu, kualuitas ,serta pesan yang diabawa dan beralih dengan mengejar royalti belaka dengan terus saja memprtahankan masa tayang selagi rating belum turun.

Mira.W, seorang dokter yang dari buah imajinasinya mampu melahirkan novel-novel berkualitas, yang pada tahun 90-an mampu diangkat ke dalam script sinetron,
Saat ini terpakasa harus tersingkir. bukan karena mutu yang kurang, namun karena tidak sesuai dengan keinginan produser.

Sekarang, banyak produser yang lebih mempercayakan penggarapan ceria dan scenario kepada script writer yang memilki produktifitas tinggi walau tak diimbangi dengan kualitas tinggi pula. Serena Luna menjadi contoh  script writer langganan Production House (PH) Sinemart. Dalam penggarapannya, Serena Luna terlalu memaksa menghadirkan cerita dalam sinetron Candy.  Candy sebagai tokoh prontagonis, selalu saja dipertemukan dengan banyak tokoh yang munncul tiba-tiba tanpa ada kaitannya dengan cerita asal hanya demi melangsungkan episode yang harus berjalan. Karena saking digenjotnya reputasi Candy sebagai gadis baik, malah memberi efek pencitraan bahwa dia merupakan manusia idiot yang tak memiliki sisi yang hitam.

Dalam kasus ini, siapa yang dsalahkan? Produser bukanlah tersangka utama.
Justru kita dapati para pemirsa, terlebih ibu-ibu yang malah bisa dijadikan kambing hitamnya. Sebab menjamurnya sinetron-sinetron kuliatas rendah terebut, disebabkan karena masih setianya pemirsa yang menonton sinetron tersebut. Dengan tidak berkurangnya jumlah penontonnya, maka rating sinetronpun tidak akan pernah turun.
Dengan begitu, para produser tentu tidak akan merampungkan cerita sinetronnya, meski jumlah episode sudah sedemikian banyak.

Lutfi Syarifudin

 
Leave a comment

Posted by on February 19, 2009 in Layar Televisi

 

Tags: , ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.