Ketika sebuah reportese menegangkan ditayangkan secara live, entah itu politik ataupun isu teroris. Mata kita otomatis tertuju pada dua stasiun televisi yang saling berkompetisi sengit, siapa lagi kalu bukan Metro Tv dan Tv One.
Andina Dwi Fatma juga pernah menglas kompetisi keduanya dalam artikel berjudul “in English Please haha” di rubric ini juga. Dari artikel tersebut kita semakin tahu bahwa TV One memang benar-benar rival sejati Metro TV. Pada liputan ekslusif pengepungan tempat persembunyian Ibrahim ( sebelumnya diduga Noordin M Top ) di desa Beji, kecamatan Kedu, Temanggung jumat lalu, nampak sekali Metro TV dan TV One berlomba-lomba menyajikan liputan terbaik.
Dari petang hingga tengah malam tak ada tanda-tanda aksi klimaks tim Destamen Khusus (Densus) 88 akan segera dilakukan. Sambil secara live Metro TV menyorot situasi desa dusun Beji, satsiun televisi tersebut juga berinisiatif menampilkan wawancara dengan pengamat intelijen. Walaupun wawancara tersebut kurang menarik, namun Metro TV sudah selangkah lebih maju dari TV One. Namun dini hari, TV One sudah bisa mereportasekan bahwa Densus 88 sudah menerjunkan robot kiriman dari Jakarta yang akan menghandle tugas pengintaian mereka. Bahkan pagi hari TV One dengan jelas mampu memperlihatkan wujud robot yang lebih mirip tank mini tersebut.
Dengan cermat Ecep S Yasa, reporter TV One mempresentasikan spesifikasi robot yang multifungsi itu. Yakni, berukuran panjang sekitar satu meter. Dilengkapi kamera dan tangan untuk meletakkan bahan peledak ke dalam rumah tersebut. Melalui posisi paling dekat dengan polisi, Ecep membaca layar monitor hasil kerja kamera yang dipasang di robot. Karena itu, seluruh penjuru Indonesia menjadi tahu kondisi bagian depan rumah tersebut: tidak ada orang sama sekali di situ. Kemudian Robot dotarik keluar dan meneruskan tugas selanjutnya untuk menaruh bom denagn daya sedang untuk meledakkan pintu tengah.
Terkesan sangat mendramatisir memang, namun tujuannya untuk meminimalisir jatuhnya korban dari pihak petugas. Bukankah saat itu, berbagai spekulasi tentang siapa dan apa saja yang ada di dalam rumah sebelah bukit itu belum terjawab? Misalnya, jumlah orang yang ada di dalam rumah itu. Dilengkapi dengan senjata apa saja, adakah bom di sana? Bagaimana dengan Channel “tetangga”? ternyata Metro TV juga sempat menampilkan gambar robot kebanggan Densus 88 tersebut namun kurang begitu jelas. Karena Metro TV stanby di pertigaan dusun Siwur (300M dari dusun Beji) Sedang TV One hanya 30 M dari TKP. Dengan posisi yang menang telak, TV One leluasa meliput detik demi detik sepak terjang Densus 88 karena mendapat area VIP.
Ketika pemberangkatan Muhdjahri, Aris dan Indra dari Bandara Adi Sucipto Jogja menuju Jakarta, Ecep berkali-kali live melaporkan situasi terbaru di dusun Beji kala itu sudah di samping pesawat polri menyiarkan pemberangkatan tiga orang yang tertuduh teroris itu. TV One begitu gemilang dalam menyajikan rangkaian peliputan perburuan Noordin M Top.
Banyak argumen mengatakan bahwa prestasi itu merupakan hasil dari seriusnya TV One menjalin hubungan baik dengan polisi. Terlebih Sukarni Ilyas atau akrab disapa Karni Ilyas, pemimpin redaksi TV One juga pernah menjabat sebagai Kompolnas (Komisi Kepolisian Nasional). Sayangnya kedekatan TV One dengan polisi justru dicitrakan buruk oleh sebagian masyarakat seakan TV One adalah duplikasi TVRI zaman Orba.Bahkan di Solo TVOne dilarang masuk ke rumah almarhum Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono karena dianggap sebagai TV polisi. TVOne pun membantah karena sudah bekerja dengan kode etik jurnalistik dan tidak memojokkan siapa pun. Protes bahkan tidak hanya dari keluarga tersangka, TVOne juga mendapat cibiran atau protes dari polisi karena terlalu memojokkan atau menonjolkan pihak-pihak tertentu.
Totok Suryanto General Manager News TVOne menyangkal ketidak berimbangan medianya. Dia mengaku tak hanya mendapat pencitaan buruk dari keluarga tersangka teroris, namun dari polisi sendiri pun juga sering menadpat cibiran negatif. Totok menegaskan indepensi TV One dan mengatakan; “Kami dalam tugas jurnalistik pegangannya kaidah-kaidah yang berlaku. Kami sama sekali tidak ada memojokkan siapapun. Kami selalu berprasangka positif apapun kondisinya.” Maka perjuangan independensi TV one dan kaitannya dengan kedekatan polisi pantas kita asumsikan dengan sesuatu yang buruk? Tergantng sedewasa apakah masyarakat menyikapinya. (Lutfi Syarifudin)



