Sebulan sudah kita belajar untuk meningkatkan kemapuan menahan hawa nafsu. Maka setelah hari kemenangan ini, tentunya kita sudah terlahir kembali menjadi sosok suci yang mampu berusaha kebal terhadap godaan-godaan setan.
Hari kemenangan bisa diartikan sebagai hari kemerdekaan. Tapi lain dengan hari kemerdekaan Negara kita yang jadi momen memberi grasi untuk membesakan para koruptor dari balik bui. Sedangkan kita, apakah juga turut membebaskan syaitan yang bulan Ramadhan lalu sudah dibelenggu? Tentu saja tidak.
Kita yang masih muda ini memang identik dengan keperkasaan dan tahan uji. Maka alangkah baiknya bila keperkasaan itu kita diksikan pada keperkasaan mempertahankan kestabilan iman pasca Ramadhan. Memang, Ramadhan punya pengaruh besar dalam mengkondisikan iklim nuansa keimanan kita. Namun bukan berarti akhir Ramadhan adalah akhir dari masa-masa kekhusyu’an. Justru Ramadhan adalah sarana menaikkan level keimanan kita supaya lebih punya imunitas terhadap godaan syaitan.
Banyak amalan yang memang khas dilakukan di bulan Ramadhan saja, seperti shalat tarawih, puasa wajib, I’tikaf dan lain sebagainya. Tapi ada juga kebiasaan Ramadhan yang patut kita teruskan di bulan-bulan berikutnya. Seperti ritme kebiasaan mengamalkan sikap sabar, menahan nafsu, menghindari dosa, menghindari gossip ngomongin kejelekan orang dan bermepati kepada lingkungan sekitar misalnya.
Jangan sampai pelatihan selama 1 bulan lalu mengalami degradasi berupa penurunan kualitas iman kita. Kalau istilah ngetrennya oleh para aktivis masjid, kasus degradasi iman ini disebut “Futur”. Arti simple kata “futur” adalah berhenti setelah berjuang.
Memang di hari kemenangan ini, perayaan bulan syawal kadang identik dengan hiburan-hiburan yang tak jauh dari beraroma maksiat. Tapi buat kita, syawal sama seperti arti dalam bahasa aslinya, yaitu peningkatan. Maka di bulan kemenangan ini mari kita tunjukkan diri kita yang udah lahir kembali menadi sosok yang bersih. Tunjukkan bahwa satu bulan lalu kita tak hanya menahan haus dan lapar, tapi kita memang digojlok habis-habisan untuk siap tempur melawan godaan syaitan.
Lutfi Syarifudin


